kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.537   7,00   0,04%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

BI Perkirakan The Fed Pangkas Suku Bunga 2 Kali, pada September dan Desember 2025


Rabu, 21 Mei 2025 / 16:17 WIB
BI Perkirakan The Fed Pangkas Suku Bunga 2 Kali, pada September dan Desember 2025
ILUSTRASI. Bank Indonesia (BI) memperkirakan The Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunganya dua kali pada tahun ini. KONTAN/Cheppy A. Muchlis/23/04/2025


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memperkirakan The Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunganya dua kali pada tahun ini. Namun, pemangkasan suku bunga The Fed diperkirakan baru akan dilakukan menjelang akhir tahun, yakni pada September dan Desember  2025.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, proyeksi tersebut sejalan dengan inflasi AS yang diperkirakan masih tetap tinggi namun kenaikannya tidak terlalu besar.

“Karenanya kami memperkirakan Fed Fund Rate (FFR) akan turun dua kali, yaitu di sekitar bulan September sekali dan di bulan Desember,” tutur Perry dalam konferensi pers, Rabu (21/5).

Baca Juga: Dorong Pertumbuhan Ekonomi Jadi Alasan BI Pangkas Suku Bunga Jadi 5,50% pada Mei 2025

Perry membeberkan, menurunnya proyeksi inflasi AS tersebut imbas adanya kesepakatan sementara antara AS dengan China untuk menurunkan tarif impor selama 90 hari. Dengan kondisi tersebut, sekaligus mendorong tetap kuatnya ekspektasi penurunan FFR.

Kondisi tersebut juga lanjut Perry, menyebabkan adanya pergeseran aliran modal dari AS ke negara dan aset yang dianggap aman (safe haven asset) masih berlanjut dan mulai diikuti dengan peningkatan aliran modal ke emerging markets (EM), termasuk ke Indonesia.

Akibatnya, indeks mata uang dolar AS terhadap negara maju (DXY) terus melemah dan diikuti pelemahan juga terhadap mata uang negara berkembang di Asia (ADXY).

“Tekanan-tekanan terhadap nilai tukar karena mata uang dolar juga mereda termasuk di Indonesia dan termasuk kebijakan-kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah kita,” ungkapnya.  

Meski demikian, Perry menyebut perkembangan negosiasi tarif impor antara AS dengan China dan negara-negara lain masih dinamis sehingga ketidakpastian perekonomian global tetap tinggi.

Baca Juga: Bank Indonesia Pangkas Suku Bunga BI Rate Jadi 5,50% pada RDG Mei 2025

Hal ini karena kesepakatan dua negara tersebut masih bersifat sementara, sehingga Indonesia masih harus tetap waspada.

Kondisi ini memerlukan kewaspadaan serta penguatan respons dan koordinasi kebijakan untuk menjaga ketahanan eksternal, mengendalikan stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.

“Kita juga melakukan intervensi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar keuangan negeri, Hong Kong, Eropa, dan AS terus-menerus 24 jam terus-terusan dan itu menjaga stabilitas. Artinya, kondisi global masih tidak pasti,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×