kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.049.000   4.000   0,13%
  • USD/IDR 16.943   24,00   0,14%
  • IDX 7.711   133,47   1,76%
  • KOMPAS100 1.077   18,47   1,75%
  • LQ45 788   15,37   1,99%
  • ISSI 273   5,07   1,89%
  • IDX30 419   8,93   2,18%
  • IDXHIDIV20 515   13,10   2,61%
  • IDX80 121   2,06   1,73%
  • IDXV30 139   2,88   2,11%
  • IDXQ30 135   3,02   2,28%

Kopdes Merah Putih Berpeluang Garap Bisnis Sawit, CELIOS Wanti-Wanti Hal Ini


Minggu, 26 Oktober 2025 / 19:25 WIB
Kopdes Merah Putih Berpeluang Garap Bisnis Sawit, CELIOS Wanti-Wanti Hal Ini
ILUSTRASI. Pengamat sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda. Rencana Kopdes Merah Putih untuk merambah bisnis perkebunan kelapa sawit menuai kekhawatiran. Celios wanti-wanti hal ini.


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rencana Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) untuk merambah bisnis perkebunan kelapa sawit menuai kekhawatiran. Pasalnya, ini dinilai berpotensi menyebabkan kerugian besar jika Kopdes dipaksakan masuk ke industri yang membutuhkan kemampuan manajerial tinggi tanpa persiapan matang.

Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, mengatakan bahwa setiap entitas bisnis harus menyesuaikan diri dengan kemampuan inti dan kebutuhan pasar yang ada. Menurutnya, memaksakan Kopdes masuk ke industri sawit tanpa adanya keahlian mengelola berpotensi menjadi sia-sia.

"Ketika entitas bisnis dipaksakan masuk ke industri tertentu tanpa ada persiapan yang matang, ya akan mendapatkan kerugian," ujar Huda kepada Kontan.co.id, Minggu (26/10).

Huda menyoroti adanya biaya operasional bulanan (ongkos) yang harus dikeluarkan. Jika Kopdes tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk mengelola kebun sawit secara profesional, maka dana yang dikeluarkan tersebut akan menjadi beban.

Baca Juga: Sejumlah Kebijakan Menkeu Purbaya Dinilai Tidak Tepat Secara Momentum, Ini Alasannya

Selain masalah kemampuan internal, Huda juga mengingatkan faktor pasar. Keberlanjutan bisnis sawit oleh Kopdes sangat tergantung pada kesiapan off-taker atau pembeli hasil panen, yang harus dipastikan ketersediaannya.

Kekhawatiran terbesar Huda terletak pada potensi praktik rent-seeking atau perburuan rente. Ia menduga Kopdes Merah Putih justru hanya akan dijadikan stempel untuk mengamankan operasional perkebunan yang sebenarnya tetap digarap oleh perusahaan korporasi besar.

"Saya mengkhawatirkan praktik ini akan melangsungkan praktik rent-seeking melalui Koperasi Merah Putih. Koperasi Merah Putih menggarap lahan sawit, namun praktiknya tetap digarap oleh perusahaan," tegasnya.

Huda berpandangan, praktik ini hanya akan mengganti pemain di permukaan, alih-alih mengembalikan fungsi lahan. Seharusnya, lahan sawit yang diambil dari kawasan hutan harus dikembalikan terlebih dahulu fungsinya agar sesuai peruntukannya.

Baca Juga: Pekerja Berpenghasilan Rentan Diusulkan Dapat BPJS Ketenagakerjaan Gratis

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×