kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.049.000   4.000   0,13%
  • USD/IDR 16.932   13,00   0,08%
  • IDX 7.689   112,38   1,48%
  • KOMPAS100 1.074   15,57   1,47%
  • LQ45 785   13,04   1,69%
  • ISSI 271   3,81   1,43%
  • IDX30 419   8,52   2,08%
  • IDXHIDIV20 514   11,51   2,29%
  • IDX80 121   1,81   1,52%
  • IDXV30 139   2,71   1,99%
  • IDXQ30 135   2,72   2,06%

Rupiah Tertekan Imbas Konflik Di Timur Tengah, Apakah BI Akan Naikkan Suku Bunga?


Kamis, 05 Maret 2026 / 13:41 WIB
Rupiah Tertekan Imbas Konflik Di Timur Tengah, Apakah BI Akan Naikkan Suku Bunga?


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Lantas dengan kondisi tersebut, haruskah Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga acuan guna meredam gejolak?

Chief Economist Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo menilai, dalam waktu dekat BI masih akan menahan suku bunga. Menurutnya, fokus utama bank sentral saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar, baik lewat instrumen non-deliverable forward (NDF) maupun di pasar spot.

Baca Juga: KPK Tahan Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Terkait Kasus Pengadaan Jasa Outsourcing

“Belum ada ruang penurunan (suku bunga atau BI-Rate) di waktu dekat, masih ditahan,” tutur Banjaran kepada Kontan, Kamis (5/3/2026).

Banjaran melihat ruang untuk penurunan suku bunga juga belum terbuka dalam jangka pendek. Menurutnya, evaluasi kebijakan kemungkinan baru akan lebih jelas pada kuartal II 2026 mendatang, dengan mempertimbangkan perkembangan global dan stabilitas rupiah.

Namun, jika konflik berlangsung lebih lama dan memicu lonjakan harga minyak yang signifikan, ruang untuk pemangkasan suku bunga akan semakin terbatas.

Adapun secara global ia melihat potensi peningkatan suku bunga secara global terbuka, mengacu kepada dampak lonjakan harga minyak diikuti komoditas utama lainnya. Dampaknya akan terasa ke negara maju yang umumnya tidak memiliki program subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).

Namun demikian, ia menilai untuk Indonesia dampaknya tidak serta-merta langsung terasa. Banjaran menjelaskan, Indonesia memiliki skema subsidi energi yang sudah diperhitungkan dalam asumsi dasar APBN.

“Untuk Indonesia, karena masuk asumsi dasar APBN jadi beban subsidi, transmisinya tidak langsung dan degree-nya bergantung seberapa besar tekanannya di serap,” ungkapnya.

Baca Juga: Lebaran 2026 Jatuh Tanggal Berapa? Ini Penetapan Muhammadiyah dan Pemerintah

Untuk diketahui, rupiah spot menguat pada perdagangan Kamis (5/3/2026) pagi. Pukul 09.12 WIB, rupiah spot ada di level Rp 16.882 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 0,06% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.892 per dolar AS.

Sementara itu, Harga minyak lanjut menguat pada perdagangan Kamis (5/3/2026) pagi. Pukul 07.33 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April 2026 di New York Mercantile Exchange ada di US$ 75,75 per barel, naik 1,46% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 74,66 per barel.

Harga minyak naik karena para pedagang menimbang dampak perang AS dan Israel melawan Iran yang semakin meluas, dan akan berdampak para pasar energi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×