kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.522   22,00   0,13%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Pengamat pesimis laju ekonomi 5,2%, ini alasannya


Selasa, 11 Juli 2017 / 23:48 WIB


Reporter: Choirun Nisa | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Langkah pemerintah mengejar laju pertumbuhan 5,2% tahun ini bisa dibilang tak mudah. Mengingat dari sisi konsumsi masyarakat yang dibilang cenderung menurun.

Dalam hasil survei Bank Indonesia (BI) bulan Juni 2016, indeks keyakinan konsumen (IKK) menurun 3,5 poin dari 125,9 di Bulan Mei menjadi 122,4.

Melemahnya IKK pada Juni 2017 terjadi di 7 kota, dengan penurunan indeks terbesar terjadi di Makassar (-18,8 poin) dan Banten (-14,3 poin). Berdasarkan tingkat pengeluaran, penurunan IKK terbesar terjadi pada kelompok responden dengan tingkat pengeluaran Rp3-4 juta per bulan.

Selain itu, indeks kondisi ekonomi saat ini (IKE) pun turun 1.3 poin menjadi 113.7 dan indeks ekspektasi konsumen (IEK) turun 5.9 poin menjadi 131.

Penurunan IKE Juni sebesar 1,3 poin disebabkan oleh melemahnya persepsi konsumen terhadap ketersediaan lapangan kerja, sebagaimana ditunjukkan oleh indeks ketersediaan lapangan kerja saat ini yang turun 8,3 poin dibandingkan bulan sebelumnya.

Penurunan IKE pada Juni 2017 ini terjadi di 6 kota, dengan penurunan indeks tertinggi terjadi di Ambon (-21,7 poin) dan Banten (-16,2 poin). Berdasarkan tingkat pengeluaran, penurunan IKE terbesar terjadi pada kelompok responden dengan pengeluaran Rp3-4 juta per bulan.

Meski menurun, penghasilan pada Juni ini meningkat 3 poin menjadi 127. Menurut hasil survei yang dirilis Bank Indonesia, hal ini mengindikasikan bahwa penghasilan membaik ini didorong oleh penerimaan Tunjangan Hari Raya (THR) dan meningkatnya pendapatan usaha. Kenaikan ini seiring dengan naiknya indeks ketepatan pembelian barang tahan lama sebanyak 1,5 poin.

Melihat hal ini, pengamat ekonomi Universitas Gadjah Mada Revrison Baswir menyatakan, penurunan indeks konsumen bulan Juni disebabkan turunnya daya beli masyarakat.

"Masyarakat membelanjakan cukup banyak, apalagi bertepatan dengan hari lebaran dan memasuki tahun ajaran baru. Hal ini membuat masyarakat menahan diri untuk pengeluaran yang harus dikeluarkan di bulan Juli sehingga wajar jika (indeks konsumen) menurun," ujar Revrison pada KONTAN, Selasa (11/7).




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×