kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Ini cara supaya neraca perdagangan kembali surplus


Senin, 04 Agustus 2014 / 18:58 WIB
ILUSTRASI. Kementerian ESDM resmi meluncurkan fitur perdagangan karbon untuk subsektor ketenagalistrikan.. REUTERS/Wolfgang Rattay/File Photo


Reporter: Margareta Engge Kharismawati | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Kinerja ekspor memang akan membaik setelah ekspor mineral mentah kembali aktif. Namun di sisi lain, pemerintah perlu melakukan pengereman impor  terutama impor barang modal.

Ekonom Standard Chartered Eric Sugandhi mengatakan, kinerja ekspor setelah aktifnya ekspor mineral memang akan pulih secara bertahap. Hanya saja, untuk ekspor tidak bisa diharapkan akan terjadi kenaikan yang signifikan.

Defisit neraca dagang juni sebesar US$ 305,1 juta adalah sesuatu yang musiman karena ada Lebaran. Menurut dirinya, yang perlu diperhatikan pemerintah adalah pada sisi impor. 

Impor barang modal alias produksi yang tinggi harus bisa direm. Sebut saja impor mesin dan peralatan mekanik yang pada bulan Juni mencapai US$ 2,42 miliar atau naik 18,22% dibanding bulan sebelumnya. "Industri tersebut harus bisa dibikin di sini. Itu akan bantu kinerja neraca dagang kita," ujar Eric kepada KONTAN Senin (4/8). 

Kebijakan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga tinggi, di sisi lain juga akan membantu mengerem impor.  Pengereman ini penting sebagai upaya mengempiskan defisit transaksi berjalan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×