kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.818.000   -42.000   -1,47%
  • USD/IDR 17.130   16,00   0,09%
  • IDX 7.500   41,69   0,56%
  • KOMPAS100 1.037   8,08   0,79%
  • LQ45 746   -0,12   -0,02%
  • ISSI 272   3,24   1,21%
  • IDX30 399   -1,25   -0,31%
  • IDXHIDIV20 486   -4,46   -0,91%
  • IDX80 116   0,59   0,51%
  • IDXV30 135   0,10   0,08%
  • IDXQ30 128   -1,20   -0,93%

Faisal: Banyak nasabah alihkan dana ke Singapura


Senin, 26 Mei 2014 / 21:36 WIB
ILUSTRASI. Manfaat makan sayur untuk kesehatan.


Reporter: Adhitya Himawan | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Dalam kesaksiannya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dengan terdakwa Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Mulya, pakar ekonomi Faisal Basri mengatakan bahwa akibat Indonesia tidak menerapkan blanket guarantee (penjaminan penuh), banyak nasabah perbankan nasional yang memindahkan dananya ke Singapura pada tahun 2008. 

Menurutnya, tidak diterapkannya blanket guarantee menunjukkan Indonesia minim penerapan penanganan krisis sehingga banyak masyarakat memindahkan uang ke negara yang menerapkan blanket guarantee agar lebih aman.

"Analis Singapura membeberkan bahwa tahun 2008 ada aliran modal begitu derasnya ke bank-bank yang ada di Singapura berasal dari Indonesia," ungkap Faisal, Senin, (26/5).

Ia menjelaskan Banking Pressure Index (BPI) yang dirilis oleh Danareksa Research Institute menginformasikan adanya kekeringan likuiditas pada tahun 2008. "Prinsip yang di pakai di Indonesia, uang mengalir bebas dari dalam ke luar maupun sebaliknya, tidak ada aturan berapa jumlah yang harus dipindahkan. Ketika krisis, pemodal memindahkan uangnya ke negara-negara yang memberikan blanket guarantee," paparnya. 

Faisal menegaskan bahwa uang tidak mengenal nasionalisme. "Hingga sekarang tercatat US$ 100 miliar dolar uang milik orang Indonesia berada di Singapura," ujarnya.

Faisal juga menambahkan penjaminan terhadap nasabah hanya sebesar Rp 2 miliar berdasarkan Perppu tidaklah cukup. Sehingga banyak nasabah yang menarik dananya yang berada di bank dan menimbulkan keringnya likuiditas.

"Penjaminan di bawah Rp 2 miliar mencangkup 95% nasabah di Indonesia, tetapi uang nasabah 95% hanya sebesar 10% dari jumlah uang yang ada di perbankan nasional. Ketimpangan di Indonesia sangat jelek," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×