Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus hadir di pasar dan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, di tengah tren pelemahan mata uang Garuda yang terus berlanjut.
Pada perdagangan Rabu (3/6/2026) siang, nilai tukar rupiah di pasar spot terus tertekan. Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 12.08 WIB rupiah berada di level Rp 17.930 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,51% dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya di Rp 17.839 per dolar AS. Level tersebut menjadi posisi terlemah rupiah sepanjang masa.
Di saat yang sama, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia tercatat naik ke level 99,26 dari sehari sebelumnya 99,21.
Baca Juga: PP Baru Terbit, Danantara Kini Bisa Bentuk Banyak Holding BUMN
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menegaskan bahwa BI terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah.
"Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal," ujar Denny dalam keterangan resminya, Rabu (3/6/2026).
Denny menambahkan, bank sentral terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valuta asing (valas). Langkah tersebut dilakukan untuk turut mendukung stabilitas pasar keuangan domestik.
Selain intervensi di pasar, BI juga mulai memberlakukan kebijakan baru terkait transaksi valas. Sejak 2 Juni 2026, BI telah menerapkan ketentuan threshold tunai pembelian valas terhadap rupiah tanpa underlying sebesar US$ 25.000 per pelaku per bulan.
Upaya menjaga stabilitas rupiah juga dilakukan melalui perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral atau Local Currency Transaction (LCT). Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.
Baca Juga: Moody’s Tetapkan Peringkat Baa2 untuk Danantara Investment dengan Outlook Negatif
Saat ini, kerja sama LCT Indonesia telah terjalin dengan sejumlah negara, yakni Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
"Bank Indonesia juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar," kata Denny.
Lebih lanjut, BI menilai stabilitas nilai tukar rupiah tidak hanya bergantung pada kebijakan bank sentral, tetapi juga memerlukan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan.
"Untuk itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha, dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional," pungkas Denny.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













