kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   15.000   0,55%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

BRICS Mulai Dedolarisasi, Indonesia Ternyata Sudah Lebih Dulu Melakukannya


Sabtu, 22 April 2023 / 15:03 WIB
ILUSTRASI. Mata uang Dolar Amerika Serikat. KONTAN/Cheppy A. Muchlis


Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Tak mau bergantung dengan dolar Amerika Serikat (AS), membuat sejumlah negara mulai melakukan dedolarisasi. Sebelumnya, dedolarisasi merupakan proses mengganti dolar sebagai mata uang yang digunakan untuk perdagangan hingga perjanjian bilateral. 

Hingga saat ini, dolar AS merupakan mata uang utama. Dolar AS biasa digunakan sebagai acuan untuk kebijakan ekonomi, juga digunakan untuk perjanjian antarnegara. 

Nah, baru-baru ini ramai dibicarakan organisasi dagang BRICS yang ingin menggunakan mata uang baru dalam transaksi perdagangan. 

Aliansi yang beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan ini mengutarakan niatnya untuk mengurangi transaksi yang menggunakan dolar AS. 

Baca Juga: Cadangan devisa emas naik lagi pada Agustus, simak pendorongnya menurut ekonom

Salah satunya, untuk menekan biaya dan memang untuk mengurangi ketergantungan dengan mata uang utama. 

Diberitakan Kompas.com sebelumnya, seorang anggota parlemen Rusia Alexander Babakov mengungkapkan pembahasan lebih lanjut paling cepat terjadi di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS pada Agustus 2023. 

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengaku, dirinya belum mendengar kabar mengenai aliansi yang membuat mata uang baru tersebut. 

Namun, Perry menduga keputusan negara-negara tersebut yang utama adalah menggunakan diversifikasi penggunaan mata uang selain dolar. 

"Saya sih belum dengar mengenai itu. Namun, memang negara-negara ini bertujuan diversifikasi penggunaan mata uang dengan non dolar AS," terang Perry dalam konferensi pers, awal pekan ini. 

Bila memang ini tujuannya, sebenarnya ini bukan hal yang baru. Bahkan, Indonesia merupakan salah satu negara yang sudah duluan melakukan diversifikasi mata uang. 

Baca Juga: Kurangi Ketergantungan Dolar Jadi Faktor Beberapa Negara Pertebal Cadangan Emas

Yaitu, dengan menggunakan local currency settlement (LCS) pada tahun 2018 dan kini berkembang menjadi local currency settlement (LCT). 

"LCT ini kami kembangkan untuk penyelesaian transaksi perdagangan, investasi, dan bahkan untuk sistem pembayaran. Indonesia sudah duluan menggagas," tegasnya. 

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengungkapkan rata-rata transaksi penggunaan LCT Indonesia dengan negara mitra makin meningkat tiap tahunnya. 




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×