Reporter: Harry Febrian | Editor: Rizki Caturini
JAKARTA. Cerahnya prospek proyek pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) yang menghubungkan Jawa dengan Sumatera mengundang ketertarikan banyak investor asing, terutama dari China.
Perancang Jembatan Selat Sunda, Wiratman Wangsadinata, mengatakan, biaya pembangunan JSS yang menelan biaya hingga Rp 250 triliun awalnya diperkirakan akan menjadi kendala, tapi ternyata peminat proyek ini tidak sedikit.
"Sistem kerjasama bisa melalui public private partnership dan akan ada sistem konsesi dari beberapa perusahaan," ujarnya, Kamis (3/11).
Dana investasi sebesar itu di antaranya Rp 100 triliun untuk pembangunan jembatan dan untuk pembangunan wilayah penunjang dibutuhkan dana 150 Triliun.
Namun, hingga kini belum ada kemajuan berarti mengenai investasi tersebut, lantaran masih terganjal Peraturan Presiden tentang pembangunan Jembatan Selat Sunda ini yang belum jua terbit. "Saya dengar Perpres sudah ditandatangani Menko Perekonomian dan Menteri Pekerjaan Umum sehingga tinggal menunggu paraf presiden," kata Wiratman.
Potensi bisnis dari program JSS ini memang menggiurkan. Sebab, sekitar 80% penduduk dan PDB Indonesia disumbang oleh kedua pulau ini. "Kalau bisa kita jadikan satu kesatuan ekonomi, dampaknya pasti akan luar biasa untuk pertumbuhan perekonomian kita secara keseluruhan," tukas Wiratman.
Jika berhasil dibangun, Jembatan ini akan menjadi jembatan terpanjang di dunia yakni sepanjang 29 kilometer (km). Jembatan ini akan memiliki tiga lajur lalu lintas masing-masing arah selebar 3x3,75 meter (m), dua lintasan kereta api rel ganda selebar 10 m, lajur pemeliharaan masing-masing selebar 5,05 m.
Pembangunan jembatan yang membutuhkan waktu 10 tahun ini diharapkan bisa dimulai pada 2014.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













