Reporter: Siti Masitoh | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas terus melonjak. Sebagai gambaran, Senin (9 Februari 2025) harga emas batangan bersertifikat di laman Logam Mulia PT Aneka Tambang (ANTM) naik Rp 20.000 per gram, dari sebelumnya Rp 2.920.000 per gram menjadi Rp 2.940.000 per gram.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyampaikan, salah satu penyebab harga emas terus meningkat adalah disebabkan para investor yang melakukan lindung nilai asetnya di tengah ketidakpastian global. Sebagaimana diketahui, emas merupakan aset safe haven yang tengah digemari ditengah berbagai tantangan global.
Destry menyebut, terdapat banyak bank sentral menurunkan cadangan dolarnya dan masuk ke US Treasury atau surat utang AS. Namun, bank sentral tersebut kembali bergeser ke emas.
"Mereka pegang USD bonds, dia pergi kemana? Ke emas. Jadi enggak heran emas ini harganya dalam satu tahun terakhir aja naiknya sudah lebih dari 2 kali lipat,” tutur Destry dalam Indonesia Economic Outlook 2026, Selasa (10/2/2026).
Baca Juga: BI Pede Rupiah ke Depan Menguat, Asal Ekonomi Lebih Sustain
Destry biang, pada awal tahun lalu harga emas masih sekitar Rp 1,1 juta per gram, sedangkan sekarang harganya sudah mendekati Rp 3 juta atau naik hampir tiga kali lipat. Hal tersebut menunjukkan telah terjadi pergeseran.
Kata Destry, hal serupa juga terjadi pada pergerakan mata uang. Pelaku pasar akan melihat instrumen yang mampu memberikan imbal hasil paling tinggi. Menurutnya, dana tidak memiliki loyalitas selain kepada tingkat imbal hasil yang bisa diperoleh dari setiap investasi, baik dalam rupiah maupun dolar.
Ia mengakui rupiah memang masih mengalami pelemahan. Namun, dalam tiga hari terakhir rupiah mulai menunjukkan penguatan, bahkan pada hari ini berada di kisaran level 16.700 per dolar AS.
Disisi lain, kata Destry, dua hari sebelumnya sempat terjadi gejolak setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) merilis laporannya yang bersamaan dengan dinamika di negara tetangga, sehingga menimbulkan kebingungan di pasar.
Meski demikian, komunikasi yang tegas dan baik dari pemerintah serta regulator, yang menekankan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kepercayaan pasar, dinilai berhasil memulihkan kembali kepercayaan pelaku pasar.
“Ditambah juga memang Bank Indonesia selalu terus menyampaikan, kami yang menyelenggarakan dalam operasi mengetar kami, kita selalu konsisten bahwa Bank Indonesia akan tetap berada di pasar, Bank Indonesia akan tetap menjaga stabilitas dari rupiah itu sendiri,” ungkapnya.
Baca Juga: BI Sebut AS Tak Akan Cepat Pangkas Bunga, Global Masih Hadapi Era Suku Bunga Tinggi
Selanjutnya: Bos BPJS Kesehatan: 283,87 juta Masyarakat Sudah Jadi Peserta BPJS Kesehatan
Menarik Dibaca: Perluas Akses Investasi, Maybank AM Hadirkan Tiga Reksa Dana Baru
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













