kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   14.000   0,48%
  • USD/IDR 16.818   -10,00   -0,06%
  • IDX 8.133   100,88   1,26%
  • KOMPAS100 1.146   14,31   1,26%
  • LQ45 828   7,29   0,89%
  • ISSI 288   4,65   1,64%
  • IDX30 431   4,00   0,94%
  • IDXHIDIV20 517   4,31   0,84%
  • IDX80 128   1,49   1,17%
  • IDXV30 141   1,36   0,97%
  • IDXQ30 140   1,18   0,85%

BI Sebut AS Tak Akan Cepat Pangkas Bunga, Global Masih Hadapi Era Suku Bunga Tinggi


Selasa, 10 Februari 2026 / 11:34 WIB
BI Sebut AS Tak Akan Cepat Pangkas Bunga, Global Masih Hadapi Era Suku Bunga Tinggi
ILUSTRASI. Gedung Bank Indonesia (BI) di Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti memperkirakan pada 2026 ini masih akan dihadapkan pada era suku bunga yang tinggi di global, khususnya di Amerika Serikat (AS).

Destry menyebut, ketidakpastian global masih tinggi, salah satunya dipengaruhi oleh kebijakan The Fed. Menurutnya, Presiden Donald Trump memiliki pandangan yang lebih dovish, dalam arti cenderung ingin mendorong perekonomian dengan lebih cepat melalui penurunan suku bunga.

Karena itu, terjadi pergantian gubernur bank sentral AS, dari sebelumnya Jerome Powell menjadi Kevin Warsh.

Baca Juga: Terima Audiensi dengan Apindo, Prabowo Bahas Perluasan Lapangan Kerja

Namun demikian, Destry melihat pejabat yang baru justru memiliki pandangan yang agak berbeda dari perkiraan awal. Meskipun semula diperkirakan akan segera menurunkan suku bunga, data-data ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan penguatan.

“Sehingga market juga (berpandangan) kayaknya AS nggak akan secepat itu menurunkan suku bunga, jadi kami masih akan menghadapi suku bunga tinggi di luar, khususnya di AS,” tutur Destry dalam agenda Economic Outlook 2026, Selasa (10/2/2026).

Sebagaimana diketahui, Presiden AS Donald Trump memilih mantan Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh untuk memimpin bank sentral AS ketika masa kepemimpinan Jerome Powell berakhir pada bulan Mei.

"Saya sudah mengenal Kevin sejak lama, dan saya yakin dia akan dikenang sebagai salah satu Ketua Fed terhebat, mungkin yang terbaik. Di atas segalanya, dia adalah sosok yang ideal, dan dia tidak akan pernah mengecewakan Anda," kata Trump seperti dilansir dari Reuters, Jumat (30/1/2026) saat mengumumkan langkah terbarunya untuk memberikan pengaruhnya pada Fed yang terus-menerus dikritiknya karena tidak menuruti tuntutannya untuk menurunkan suku bunga.

Posisi tersebut membutuhkan konfirmasi dari Senat AS. Fed telah lama dipandang sebagai kekuatan penstabil di pasar keuangan global, sebagian besar karena independensinya dari politik.

Upaya Trump yang semakin meningkat untuk menguji independensi tersebut, termasuk pada bulan Januari keputusan Departemen Kehakiman untuk membuka penyelidikan kriminal terhadap Powell, telah menyiapkan panggung untuk proses konfirmasi Senat yang menantang bagi setiap penggantinya.

Baca Juga: Kinerja Penjualan Eceran Januari 2026 Diramal Turun Secara Bulanan

Hal ini juga membuka kemungkinan bahwa Powell, yang menyebut penyelidikan kriminal sebagai dalih untuk menekan Fed agar menetapkan kebijakan moneter sesuai keinginan presiden, mungkin memilih untuk tetap berada di Fed bahkan setelah masa jabatannya sebagai ketua berakhir dalam upaya untuk melindungi Fed dari pengaruh politik.

Selanjutnya: Bank Mandiri 2025: Performa Solid, Perkuat Intermediasi & Mitra Strategis Pemerintah

Menarik Dibaca: Desain XOS 16 Infinix: Visual Premium & Performa Ngebut, Siap Saingi HP Flagship

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×