kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   14.000   0,48%
  • USD/IDR 16.830   2,00   0,01%
  • IDX 8.132   99,86   1,24%
  • KOMPAS100 1.146   13,97   1,23%
  • LQ45 829   8,49   1,03%
  • ISSI 288   4,60   1,62%
  • IDX30 431   4,26   1,00%
  • IDXHIDIV20 519   5,74   1,12%
  • IDX80 128   1,62   1,28%
  • IDXV30 141   1,99   1,43%
  • IDXQ30 140   1,49   1,07%

BI Pede Rupiah ke Depan Menguat, Asal Ekonomi Lebih Sustain


Selasa, 10 Februari 2026 / 13:46 WIB
BI Pede Rupiah ke Depan Menguat, Asal Ekonomi Lebih Sustain
ILUSTRASI. Gedung Bank Indonesia (BI) di Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memastikan bahwa nilai tukar rupiah akan terus menguat ke depannya.

Sebagaimana diketahui, rupiah sempat melemah dalam beberapa pekan terakhir. Tetapi, pada Senin (9/2/2026), rupiah di pasar spot menguat 0,42% secara harian ke Rp 16.805 per dolar AS. Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat 0,29% secara harian ke Rp 16.838 per dolar AS.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti menyampaikan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi menguat ke depannya bergantung dengan kondisi perekonomian Indonesia.

“Ayo bersama-sama kita support nilai tukar kita ini, karena inilah, bukan hanya ini kedaulatan kita suatu negara, tapi inilah yang akan memberikan jaminan ekonomi kita ini akan bisa lebih tumbuh dan lebih sustain. Tumbuhnya berkelanjutan, ini yang tentu kita harapkan,” tutur Destry dalam acara Economic Outlook 2026, Selasa (10/2/2026).

Baca Juga: Rupiah Masih Melemah, DPR Minta BI Intervensi Lebih Agresif

Untuk menjaga nilai tukar rupiah, Destry membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, mulai pelaku industri, perbankan dan korporasi.

Sebagai regulator, BI akan terus berada di pasar keuangan untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak stabil sesuai kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang kuat, menjaga pertumbuhan ekonomi dan inflasi tetap terkendali.

Sebelumnya, Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi menyatakan, penguatan rupiah salah satunya dipengaruhi oleh geopolitik global. Washington dan Teheran mengatakan pada akhir pekan bahwa pembicaraan nuklir tidak langsung antara keduanya akan berlanjut setelah apa yang mereka gambarkan sebagai diskusi positif yang diadakan di Oman pada hari Jumat.

Pesan tersebut membantu meredakan kekhawatiran bahwa konflik militer di Timur Tengah akan segera terjadi, terutama setelah Washington mengerahkan beberapa kapal perang ke wilayah tersebut awal tahun ini. Kekhawatiran akan konflik telah membuat para pedagang memberikan premi risiko yang lebih besar pada minyak, dengan Trump juga mengancam tindakan militer terhadap Teheran.

Baca Juga: Purbaya Sesumbar Tak Sulit Buat Rupiah Menguat ke Rp 15.000 Jika Dirinya di BI

“Namun, kemungkinan perang habis-habisan di Timur Tengah sekarang tampak lebih kecil, meskipun Teheran memberi sinyal bahwa mereka akan tetap melanjutkan program pengayaan nuklirnya,” kata Ibrahim, Senin (9/2/2026).

Dari dalam negeri, Ibrahim melihat pergerakan rupiah juga dipengaruhi Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). IKK terbaru menunjukkan kenaikan 3,5 poin, dari 123,5 pada Desember 2025 menjadi 127 pada Januari 2026. Level IKK ini menjadi yang tertinggi dalam setahun terakhir atau sejak Januari 2025 (127,2).

IKK merupakan indikator yang dapat digunakan untuk memprediksi perkembangan konsumsi dan tabungan rumah tangga. IKK menggunakan tahun acuan dengan nilai 100. “Artinya indeks kepercayaan konsumen pada Januari 2026 berada di zona optimistis atau di atas nilai acuan,” ucap Ibrahim.

Baca Juga: Tertekan Sentimen MSCI, Analis Memprediksi Rupiah Berisiko Menguji Level Rp 17.000

Selanjutnya: Apakah Bisa Transfer Pulsa Beda Operator? Ini Penjelasan Selengkapnya

Menarik Dibaca: Perluas Akses Investasi, Maybank AM Hadirkan Tiga Reksa Dana Baru

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×