Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai, surplus neraca dagang Indonesia pada Desember 2025 kembali menyempit seiring pertumbuhan impor yang melampaui ekspor. Penyempitan surplus tersebut diproyeksikan berlanjut pada 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca dagang turun dari US$ 2,66 miliar pada November 2025 menjadi US$ 2,51 miliar pada Desember 2025.
Josua menjelaskan, penyempitan surplus tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah yang semakin pro-pertumbuhan sehingga mendorong peningkatan impor. Selain itu, kondisi ini juga mencerminkan dampak perang dagang terhadap kinerja ekspor Indonesia.
“Sesuai perkiraan, surplus neraca dagang Indonesia terus menyempit pada Desember 2025. Hal ini terjadi seiring agenda pemerintah yang pro-pertumbuhan sehingga mendorong impor, serta adanya tekanan perang dagang terhadap ekspor,” ujar Josua, Senin (2/2/2026).
Baca Juga: Prabowo Klaim Program MBG Banyak Disorot Pakar dari Luar Negeri
Meski demikian, secara tahunan kinerja neraca dagang Indonesia masih solid. Sepanjang tahun 2025, Indonesia membukukan surplus neraca dagang sebesar US$ 41,05 miliar, meningkat US$ 9,72 miliar dibandingkan tahun 2024.
Dari sisi ekspor, Josua menilai kinerja ekspor Indonesia pada Desember 2025 ditopang oleh front-loading yang meningkat pada komoditas minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Secara tahunan, ekspor tumbuh 11,64% year on year (yoy), sementara secara bulanan melonjak 16,99% month on month (mom).
Peningkatan ekspor tersebut didorong oleh permintaan yang lebih kuat terhadap CPO, besi dan baja, serta mesin dan perlengkapan listrik. Bahkan, CPO menyumbang hampir separuh dari total pertumbuhan ekspor pada Desember 2025.
Josua menilai lonjakan permintaan CPO mencerminkan adanya front-loading menjelang rencana kenaikan pungutan ekspor pada 2026, serta ekspektasi pengetatan pasokan global pada tahun yang sama. Secara kumulatif sepanjang 2025, ekspor Indonesia tumbuh 6,15%.
Di sisi lain, seluruh kategori impor mencatatkan akselerasi pertumbuhan. Pada Desember 2025, impor meningkat 10,81% yoy. Secara bulanan, pertumbuhan impor bahkan melampaui ekspor dengan kenaikan mencapai 20,02% mom.
“Secara tahunan, seluruh kategori impor mencatatkan pertumbuhan, yang mengindikasikan percepatan pemulihan ekonomi domestik. Sepanjang tahun 2025, impor Indonesia tercatat tumbuh 2,83% secara kumulatif,” jelas Josua.
Proyeksi Tahun 2026
Ke depan, Josua memperkirakan surplus neraca dagang tetap berlanjut di 2026, namun nilainya cenderung menyempit secara bertahap seiring impor yang tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor, sejalan dengan kebijakan pemerintah yang semakin pro-pertumbuhan.
Sementara itu, pertumbuhan ekspor diperkirakan akan kembali normal setelah adanya aksi front loading menjelang penerapan tarif resiprokal Amerika Serikat pada Agustus 2025. Meski demikian, normalisasi tersebut diperkirakan berlangsung secara bertahap dan tetap ditopang oleh permintaan yang stabil dari mitra dagang utama lainnya.
“Perluasan jaringan perjanjian dagang serta pendalaman integrasi Indonesia ke dalam rantai pasok global akan terus menopang kinerja ekspor, termasuk upaya memperoleh akses tarif nol ke pasar Amerika Serikat bagi produk-produk utama,” tambahnya.
Josua memperkirakan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia diproyeksikan tetap resilien, tetapi menyempit menjadi sekitar 0,11% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2025, dari 0,62% PDB pada 2024.
Pada 2026, defisit CAD diproyeksikan melebar secara moderat ke sekitar 0,59% PDB, namun tetap mencerminkan posisi eksternal yang stabil dengan tekanan terbatas terhadap cadangan devisa.
Secara keseluruhan, cadangan devisa Indonesia diperkirakan meningkat secara moderat ke kisaran US$ 157–159 miliar pada akhir 2026, dibandingkan US$ 156,47 miliar pada akhir 2025.
Sementara itu, nilai tukar rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp 16.675–Rp 16.775 per dolar AS pada akhir 2026, relatif stabil dibandingkan posisi akhir 2025 di level Rp 16.690 per dolar AS.
Baca Juga: Nilai Impor Indonesia Capai US$ 241,86 Miliar di 2025, Naik 2,83%
Selanjutnya: Investasi Dana Pensiun Tembus Rp 388,10 Triliun per November 2025
Menarik Dibaca: Tatjana dan Fadi Alaydrus Jadi Perbincangan Netizen dalam Drama Tiba-Tiba Brondong
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













