Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Realisasi investasi yang mencapai Rp 1.010 triliun pada semester II-2026 dinilai belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan penciptaan lapangan kerja yang luas.
Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) Elly Rosita Silaban menilai kondisi tersebut dipengaruhi oleh tren investasi yang masih terkonsentrasi pada sektor-sektor padat modal dengan tingkat penyerapan tenaga kerja yang relatif terbatas.
Elly mengatakan KSBSI mengapresiasi peningkatan realisasi investasi karena berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja.
Baca Juga: Usai Disorot BPK, DJP Jelaskan Penyebab Piutang Pajak Terus Meningkat
Namun, besarnya nilai investasi tidak bisa serta-merta dijadikan ukuran keberhasilan apabila tidak diikuti dengan penciptaan pekerjaan yang berkualitas dan berkelanjutan.
“Kalau melihat perkembangan investasi beberapa tahun terakhir, kami melihat kecenderungan investasi masih cukup besar mengalir ke sektor-sektor padat modal, seperti hilirisasi pertambangan, smelter, industri logam dasar, energi, dan industri kimia,” ujar Elly kepada Kontan, Minggu (19/7/2026).
Menurutnya, sektor-sektor tersebut memang membutuhkan nilai investasi yang besar. Namun, penggunaan teknologi dan otomatisasi yang tinggi membuat jumlah tenaga kerja yang diserap relatif lebih sedikit dibandingkan sektor padat karya.
“Sektor-sektor ini memang membutuhkan investasi yang sangat besar, tetapi jumlah tenaga kerja yang diserap relatif lebih sedikit karena penggunaan teknologi dan otomatisasi yang tinggi serta membutuhkan keterampilan khusus,” katanya.
Di sisi lain, Elly menyebut sektor padat karya seperti tekstil, garmen, alas kaki, furnitur, makanan dan minuman, serta sejumlah industri manufaktur masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia
Sayangnya, sektor-sektor tersebut justru tengah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari melemahnya permintaan global, tekanan produk impor, hingga gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah perusahaan.
“Artinya, secara nominal investasi memang meningkat, tetapi peningkatan tersebut belum sepenuhnya mampu mengimbangi kebutuhan penciptaan lapangan kerja yang luas karena sebagian investasi terkonsentrasi pada sektor yang padat modal,” ujar Elly.
Selain itu, Elly mengingatkan bahwa keberhasilan investasi tidak semestinya hanya diukur dari nilai investasi maupun jumlah lapangan kerja yang tercipta.
Baca Juga: Ditjen Pajak Beberkan Tren Pembayaran Imbalan Kepada Bunga Wajib Pajak Terus Menurun
Pemerintah juga perlu memastikan investasi menghasilkan pekerjaan yang layak (decent work), termasuk memberikan kepastian hubungan kerja, upah yang layak, perlindungan ketenagakerjaan, serta kesempatan peningkatan kompetensi pekerja.
Ia menambahkan, di lapangan masih ditemukan investasi yang menghasilkan pekerjaan dengan status kerja tidak tetap, penggunaan tenaga alih daya (outsourcing), serta kontrak kerja jangka pendek.
Karena itu, KSBSI mendorong pemerintah agar kebijakan investasi ke depan mampu menciptakan keseimbangan antara pengembangan sektor berteknologi tinggi dengan penguatan industri padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja.
“Kami juga mendorong peningkatan keterampilan pekerja agar mampu beradaptasi dengan transformasi industri serta memastikan setiap investasi menghasilkan pekerjaan yang layak, produktif, dan berkelanjutan,” terang Elly.
Sebelumnya, Pemerintah mencatat realisasi investasi yang masuk ke Indonesia sepanjang semester I-2026 mencapai Rp 1.010,6 triliun. Nilai tersebut tumbuh 7,2% secara tahunan (year on year/yoy) dan telah mencapai 49,5% dari target investasi tahun ini sebesar Rp 2.041,5 triliun.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, capaian tersebut sesuai dengan target yang ditetapkan pemerintah untuk semester pertama tahun ini.
"Dan ini sesuai dengan target kami, yaitu mencapai 49,5% dari total target dalam satu tahun," ujar Rosan dalam konferensi pers di Istana, Kamis (16/7/2026).
Dari sisi sumber investasi, realisasi semester I-2026 ditopang secara berimbang oleh Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). PMA tercatat sebesar Rp 507,6 triliun atau berkontribusi 50,2% terhadap total realisasi investasi. Sementara PMDN mencapai Rp 502,9 triliun atau menyumbang 49,8%.
Realisasi investasi tersebut juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Sepanjang semester I-2026, investasi berhasil menyerap 1.448.862 tenaga kerja, meningkat 15% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: Kemnaker Catat 32.389 Buruh Terkena PHK Pada Semester I-2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
