Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
Di tengah ketidakpastian global, Suahasil juga menyebut kondisi pasar SBN Indonesia masih solid. Pemerintah terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk menjaga kondisi pasar surat berharga negara.
Suahasil menjelaskan, salah satu indikator yang diperhatikan pemerintah adalah spread atau selisih imbal hasil SBN Indonesia dengan instrumen negara lain.
Untuk SBN berdenominasi dolar AS tenor 10 tahun, spread terhadap US Treasury tenor 10 tahun berada di sekitar 97 basis poin. Posisi tersebut meningkat dibandingkan Januari 2026 yang sebesar 76 basis poin.
Baca Juga: Kemenkeu Pastikan Ekonomi Kuartal III 2026 Berdampak ke Daya Beli dan Lapangan Kerja
Sementara untuk SBN rupiah tenor 10 tahun, pemerintah mencatat spread sekitar 120 basis poin.
Jika dibandingkan dengan negara lain, Suahasil menyebut spread Indonesia masih berada pada level yang dapat menarik minat investor asing.
Dalam perbandingan yang ditampilkan pemerintah, spread Indonesia tercatat 217 basis poin, sementara Filipina sebesar 253 basis poin.
“Indonesia relatif oke, kita ada spread dengan 217 basis point itu tetap membuat bisa mengundang pemodal asing untuk membeli SBN kita,” jelas Suahasil.
Baca Juga: Pendidikan Profesi Advokat Disiapkan untuk Perkuat Kompetensi Calon Advokat
Ia menambahkan, daya tarik pasar SBN juga terlihat dari kondisi pasar primer. Hal tersebut tercermin dari bid to cover ratio dalam lelang SBN yang mencapai rata-rata 2,53 kali, lebih tinggi dibandingkan rata-rata bid to cover ratio lelang SUN yang sebesar 1,88 kali.
“Kalau lelang SUN biasanya rata-rata bid to cover ratio-nya 1,88 kali, kalau bid to cover ratio lelang SBN kita 2,53 kali,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














