kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   -25.000   -0,89%
  • USD/IDR 17.847   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.195   68,05   1,11%
  • KOMPAS100 824   16,97   2,10%
  • LQ45 619   8,11   1,33%
  • ISSI 215   -1,05   -0,49%
  • IDX30 350   2,03   0,58%
  • IDXHIDIV20 428   1,77   0,41%
  • IDX80 94   1,01   1,10%
  • IDXV30 118   -0,67   -0,56%
  • IDXQ30 112   0,74   0,66%

OECD Pangkas Pertumbuhan Ekonomi ASEAN di 2023, Bagaimana Pengaruhnya ke Indonesia?


Selasa, 05 September 2023 / 10:13 WIB
OECD Pangkas Pertumbuhan Ekonomi ASEAN di 2023, Bagaimana Pengaruhnya ke Indonesia?
ILUSTRASI. OECD) memangkas pertumbuhan ekonomi ASEAN tahun 2023 KONTAN/Baihaki/26/6/2023


Reporter: Nindita Nisditia | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. The Organisation for Economic Coorperation and Development (OECD) memangkas pertumbuhan ekonomi ASEAN tahun 2023. Ekonom menilai, ini menjadi peringatan bagi pemerintah Indonesia supaya dapat meningkatkan kebijakan-kebijakan yang bisa mendorong konsumsi dan kualitas belanja.

OECD memangkas pertumbuhan ekonomi ASEAN tahun 2023 menjadi 4,2%, turun dari yang semula 4,6% pada perkiraan Maret lalu. Namun, OECD masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indoensia di level 4,7% pada tahun ini.

Direktur Riset Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Berly Martawardaya menyebut, meski proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak dipangkas OECD seperti negara ASEAN lainnya, ini tetap menjadi pertanda semakin sulitnya Indonesia mencapai target pertumbuhan ekonomi di level 5% hingga 5,3%.

Baca Juga: Wamenlu: Kerugian ASEAN Karena Konflik Geopolitik Capai Rp 256 Triliun Per Tahun

"Semakin sulit tembus 5% untuk tahun 2023," kata Berly kepada Kontan.co.id, Selasa (5/9).

Untuk tahun ini, Berly memperkirakan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih ada di level 4,9%.

Berly menjelaskan, terdapat banyak tantangan dari perekonomian global yang berimbas pada menurunnya proyeksi OECD atas pertumbuhan ekonomi ASEAN.

Tantangan yang dimaksud seperti menurunnya harga komoditas pangan dan energi di tingkat global, sehingga akan berimbas pada penurunan inflasi bagi Indonesia, serta penurunan kinerja ekspor yang mengakibatkan neraca perdagangan kembali defisit.

Menurutnya, ekspor tidak lagi menjadi motor pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Di sisi investasi, Berly juga memperkirakan, investor akan cenderung wait and see di tahun pemilu.

Maka itu, dia mengimbau agar tahun ini pemerintah meningkatkan daya dorong ekonomi di sisi belanja, sejalan dengan peningkatan kebijakan-kebijakan yang bisa memicu konsumsi rumah tangga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×