Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menilai, lambatnya pertumbuhan penanaman modal asing (PMA) ke Indonesia sepanjang 2025 yang hanya 0,1% secara tahunan menjadi Rp 900,9 triliun. Ini mencerminkan sikap hati-hati investor asing di tengah kondisi global yang belum kondusif.
Menurut Myrdal, perlambatan tersebut terutama dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global. Salah satu faktor utama adalah memanasnya tensi geopolitik yang diiringi risiko perang dagang, sehingga banyak rencana bisnis dari negara maju maupun negara mitra ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, tertunda.
“Uncertainty dari sisi geopolitik dan perang dagang membuat semua skema bisnis ke emerging market seperti Indonesia banyak yang tertunda,” ujar Myrdal kepada Kontan, Kamis (15/1/2026).
Baca Juga: Kementerian PKP Ditunjuk Jadi Komandan Pemulihan Rumah Korban Bencana Sumatra-Aceh
Selain faktor eksternal, Myrdal juga menyoroti kondisi domestik yang turut memengaruhi minat investor asing. Aktivitas industri andalan Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan komoditas, dinilai belum sepenuhnya kondusif lantaran harga komoditas masih berada di level rendah.
"Itu yang membuat investor kelihatannya juga jadi ragu-ragu untuk masuk ke industri andalan terutama yang berkaitan dengan komoditas," ungkap Myrdal.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah persoalan struktural di dalam negeri. Myrdal menyebut proses perizinan dan regulasi investasi yang masih relatif panjang dan tidak sederhana menjadi kendala klasik yang menahan realisasi investasi asing.
“Aturan yang masih jelimet dan panjang membuat banyak investor tertahan untuk merealisasikan investasinya,” jelasnya.
Ia juga menambahkan, pada periode akhir Agustus 2025, sebagian investor asing menilai situasi domestik Indonesia kurang kondusif, sehingga memilih menunda keputusan investasi langsung (foreign direct investment/FDI). Kondisi tersebut turut berdampak pada penyerapan tenaga kerja yang bergerak searah dengan perlambatan investasi.
Baca Juga: Rosan Ungkap Lima Negara Top Investor RI Sepanjang 2025, Singapura Hingga Jepang
Meski demikian, Myrdal tetap optimistis terhadap prospek investasi ke depan. Ia menilai peluang perbaikan terbuka sepanjang tahun 2026, seiring dengan berbagai langkah pemerintah untuk mempercepat realisasi investasi.
Pemerintah, kata Myrdal, telah menyiapkan kebijakan pemangkasan rantai perizinan melalui skema debottlenecking oleh pemerintah, diharapkan dapat mempercepat arus investasi dan mendorong realisasi investasi yang lebih agresif.
"Prospeknya sebenarnya memang baik untuk kuartal I sampai kuartal IV tahun ini, karena upaya yang dilakukan oleh pemerintah juga cukup baik untuk mendorong arus investasi itu bisa lebih cepat, dan itu yang diharapkan bisa mendorong realisasi investasi bisa lebih agresif," ungkap Myrdal.
Dari sisi domestik, Myrdal melihat adanya pembalikan kondisi yang lebih positif sejak September hingga awal tahun ini. Perbaikan tersebut dinilai dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi investor asing, terutama yang melihat fundamental ekonomi Indonesia masih relatif solid.
Selain itu, tren penurunan suku bunga global juga diperkirakan menjadi katalis positif bagi ekspansi bisnis, baik dari pelaku usaha global maupun domestik.
Dengan berbagai faktor tersebut, Myrdal memproyeksikan pertumbuhan investasi Indonesia pada 2025 mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional ke kisaran 5,2%, dengan harapan kedepan realisasi PMA dapat kembali menguat seiring membaiknya sentimen global dan domestik.
Baca Juga: Investasi Asing Hanya Tumbuh 0,1% Sepanjang 2025, Ini Penjelasan Rosan
Selanjutnya: Jam Tangan Mewah Seken Banyak Diminati, JWX Targetkan Transaksi Rp 200 Miliar
Menarik Dibaca: Hujan Sangat Lebat di Sini, Cek Peringatan dini BMKG Cuaca Besok (16/1) Jabodetabek
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
