kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.988.000   -4.000   -0,13%
  • USD/IDR 17.017   7,00   0,04%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Lebaran 2026 Berpotensi Berbeda? Inilah Hitung Mundurnya


Rabu, 18 Maret 2026 / 02:12 WIB
Lebaran 2026 Berpotensi Berbeda? Inilah Hitung Mundurnya
ILUSTRASI. Mengapa Lebaran 2026 bisa berbeda tanggal? Muhammadiyah sudah tetapkan, Kemenag masih menunggu. (KONTAN/Fransiskus Simbolon)


Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Setelah sebulan penuh menahan lapar dan dahaga, bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah hampir selesai. Umat Islam kini bersiap menyambut hari kemenangan, Idul Fitri 2026 dengan penuh syukur dan kebahagiaan. Hitung mundur menuju 1 Syawal 1447 Hijriah pun makin terasa.

Berdasarkan pada kalender Hijriah 2026 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) Indonesia, hari raya Idul Fitri 2026 diperkirakan jatuh pada 21-22 Maret 2026. 

Tercatat dari Rabu, 18 Maret 2026, berarti umat Islam masih mempunyai waktu sekitar tiga hari lagi untuk menunaikan ibadah dan mengumpulkan pahala, sebelum menyongsong hari kemenangan yang penuh sukacita.

Pemerintah menunggu sidang isbat

Penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah atau hari raya Idul Fitri menunggu keputusan sidang isbat. Berdasarkan laman resmi Kemenag, sidang isbat penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah akan berlangsung pada 19 Maret 2026 atau 29 Ramadan 1447 Hijriah.

Sidang ini akan digelar di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, mulai pukul 16.00 WIB. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Abu Rokhmad mengatakan sidang isbat ini bakal didasarkan pada data hisab dan hasil rukyat yang diverifikasi.

"Pelaksanaan sidang didasarkan pada data hisab dan hasil rukyat yang diverifikasi, serta melalui mekanisme yang terbuka kepada publik,” ujarnya, Minggu (1/3/2026).

Sidang isbat ini juga melibatkan berbagai pihak, seperti pakar astronomi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) planetarium, observatorium, dan perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam.

Baca Juga: AS Bakal Selidiki Industri Indonesia, Pemerintah Klaim Sudah Siapkan Argumentasi

Jika keputusan sidang isbat sama dengan kalender 1447 Hijriah yang dipublikasikan oleh Kemenag, maka Lebaran 2026 masih sekitar empat hari lagi jika dihitung hari ini, Selasa (17/3/2026).

Muhammadiyah tinggal 2 hari lagi

Berbeda dengan pemerintah yang masih menunggu sidang isbat, Muhammadiyah sudah menentukan 1 Syawal 1447 Hijriah. Mengacu pada metode hisab hakiki wujudul hilal, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah atau hari Lebaran 2026 jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Ketetapan itu termuat dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah.

Artinya, jika dihitung dari hari ini, Selasa (17/3/2026), waktu menuju Lebaran menurut Muhammadiyah masih sekitar dua hari lagi.

Akankah ada potensi perbedaan?

Indonesia sudah lama berada di tengah perbedaan hari raya. Seiring potensi adanya perbedaan penanggalan tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau umat Islam untuk menunggu hasil ketetapan sidang isbat pada 19 Maret 2026 mendatang.

Sebagaimana dikutip dari Kompas.com, Senin (16/3/2026), hal tersebut dikatakan oleh Wakil Ketua Umum MUI Cholil Nafis.

"Penentuan awal Syawal tetap menunggu hasil rukyat di lapangan dan keputusan sidang isbat pemerintah," kata Cholil, Senin.

Cholil menyebut, berdasarkan perhitungan astronomi (ilmu falak), fenomena ijtima atau pertemuan matahari dan bulan pada 29 Ramadhan, terjadi pada pukul 08.25 WIB. Ia mengatakan, saat matahari terbenam di hari yang sama, posisi hilal sejatinya sudah berada di atas ufuk. Namun, ketinggiannya masih rendah.

"Kondisi paling tinggi berada di Aceh karena wilayah yang posisi hilalnya paling baik di Indonesia adalah Aceh. Dengan tinggi hilal sekitar 2°51' dan elongasi sekitar 6°09'," sebut Cholil.

Artinya, lanjut Cholil, bulan memang sudah berada di atas ufuk dan jaraknya dari matahari juga sudah mulai terbuka.

Bisa Secara teori, Cholil mengatakan ada kemungkinan untuk terlihat. "Tetapi kondisinya masih sangat tipis,” bebernya dia. Peluang rukyat tetap ada, tapi sangat terbatas.

Itu karena Indonesia sekarang menggunakan imkanur rukyat MABIMS, yakni standar penentuan awal bulan Hijriyah baru yang disepakati oleh Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Dalam kriteria itu, minimal tinggi hilal 3° dan elongasi 6,4° supaya secara ilmiah dianggap memungkinkan terlihat.

Tonton: BNI Berangkatkan 7.000 Pemudik Gratis 2026! Ini Rute dan Fasilitasnya

Dengan kata lain, selisihnya tipis dengan hasil hisab di Aceh yang menunjukkan tinggi 2,51° dan elongasi 6,09°.

"Karena selisihnya sangat kecil, para perukyat tetap melakukan pengamatan, tetapi kemungkinan terlihatnya masih sangat tipis," jelas Cholil.

Secara hisab, Cholil mengatakan hilal memang sudah berada di atas ufuk, namun masih rendah di hampir seluruh Indonesia. Oleh karena itu, potensi perbedaan tetap terbuka sehingga masyarakat diimbau untuk menghormati satu sama lain.

Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/03/17/210000265/hitung-mundur-lebaran-2026-adakah-potensi-perbedaan-?page=all#page1

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×