Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Realisasi penanaman modal asing (PMA) ke Indonesia sepanjang 2025 tercatat tumbuh sangat tipis. Di tengah tekanan global dan dinamika domestik, investor asing memilih bersikap lebih hati-hati meski fundamental ekonomi nasional dinilai tetap solid.
Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan, realisasi PMA pada 2025 mencapai Rp 900,9 triliun. Angka ini hanya tumbuh 0,1% secara tahunan (year on year/YoY), jauh melambat dibandingkan lonjakan 21% YoY pada 2024.
Kontribusi PMA terhadap total investasi nasional sebesar Rp 1.931,2 triliun pun tercatat 46,6%, kalah dominan dibandingkan penanaman modal dalam negeri (PMDN).
Baca Juga: Ekonom BCA Sebut Ketidakpastian Global Buat Investor Asing Tahan Ekspansi ke RI
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai perlambatan tersebut tidak bisa serta-merta dimaknai sebagai turunnya minat investor asing.
Menurutnya, pelemahan arus investasi lintas negara merupakan fenomena global yang dipicu oleh ketegangan dagang, tingginya suku bunga, serta ketidakpastian geopolitik yang membuat banyak perusahaan menunda ekspansi.
“Secara global, investasi memang sedang melemah. Perusahaan cenderung menahan proyek industri dan infrastruktur baru,” ujar Josua.
Di dalam negeri, dinamika politik dan sosial juga ikut memengaruhi sentimen investor. Demonstrasi yang terjadi pada Agustus 2025 mendorong sebagian investor asing mengambil sikap wait and see hingga arah kebijakan lebih jelas.
Meski begitu, sinyal positif mulai terlihat pada akhir tahun. PMA pada kuartal IV 2025 masih tumbuh 4,3% YoY, seiring penilaian investor terhadap stabilitas politik dan perbaikan kebijakan pemerintah.
Baca Juga: Investasi Melambat, Ekonom Sebut Investor Asing Tahan Ekspansi ke RI
Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menambahkan bahwa perlambatan PMA juga dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat tensi geopolitik dan risiko perang dagang.
Kondisi ini membuat banyak rencana investasi dari negara maju ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, tertunda.
“Uncertainty geopolitik dan perang dagang membuat banyak skema bisnis ke emerging market ditahan,” kata Myrdal.
Dari sisi domestik, rendahnya harga komoditas turut membuat investor asing ragu masuk ke sektor andalan Indonesia. Selain itu, persoalan struktural seperti proses perizinan yang masih panjang dan rumit menjadi hambatan klasik yang menahan realisasi investasi.
Baca Juga: Jumlah Investor Pasar Modal Terus Tumbuh, Dominasi Investor Asing Belum Padam
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai ketatnya likuiditas global sepanjang 2025 juga menjadi faktor penekan PMA.
Ketidakpastian arah kebijakan tarif Amerika Serikat, serta pelonggaran moneter The Federal Reserve (The Fed) yang baru terjadi menjelang akhir tahun, membuat dana asing lebih selektif masuk ke Indonesia.
“Dana asing lebih terbatas, sehingga FDI ke Indonesia ikut tertekan,” ujarnya.
Di tengah perlambatan PMA, investasi domestik justru tampil sebagai penopang utama. Realisasi PMDN sepanjang 2025 mencapai Rp 1.030,3 triliun, tumbuh 26,6% YoY dan berkontribusi 53,4% terhadap total investasi nasional.
Namun, struktur investasi yang lebih banyak mengalir ke sektor padat modal, seperti hilirisasi mineral senilai Rp 373,1 triliun dan hilirisasi migas Rp 60 triliun, membuat kualitas penyerapan tenaga kerja menurun.
Baca Juga: Investor Asing Masih Wait and See Masuk ke Pasar Keuangan RI
BKPM mencatat penyerapan tenaga kerja sepanjang 2025 mencapai 2,71 juta orang, tumbuh 10,4% YoY, melambat dari 34,7% YoY pada 2024. Secara rata-rata, dibutuhkan investasi sekitar Rp 712,48 juta untuk menyerap satu tenaga kerja, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, para ekonom tetap optimistis terhadap prospek investasi ke depan. Perluasan program hilirisasi, perbaikan perizinan melalui skema debottlenecking, serta peran Danantara sebagai sovereign wealth fund dinilai dapat mempercepat investasi strategis nasional.
Dari sisi eksternal, kesepakatan dagang seperti Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dan tren penurunan suku bunga global berpotensi menjadi katalis masuknya kembali modal asing.
Baca Juga: Triliunan Dana Asing Keluar dari Indonesia, Ekonom Beberkan Pemicunya
Perlambatan PMA pada 2025 lebih mencerminkan kehati-hatian investor asing di tengah tekanan global dan tantangan struktural domestik, bukan hilangnya daya tarik Indonesia.
Dengan perbaikan iklim investasi dan membaiknya sentimen global, arus investasi asing masih berpeluang kembali menguat dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.
Selanjutnya: Pengadilan Korea Selatan Jatuhkan Hukuman 5 Tahun Penjara untuk Mantan Presiden Yoon
Menarik Dibaca: Promo HokBen Gratis: Cuma Download Aplikasi HokBenAja, Langsung Dapat Irodori Bento
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
