Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
Juniman juga menyoroti hasil lelang SBN sebelumnya yang dinilai kurang optimal. Menurutnya, rendahnya penyerapan pada lelang Selasa lalu tidak terlepas dari imbal hasil yang ditawarkan, terutama untuk obligasi bertenor panjang, yang belum cukup menarik bagi investor.
Saat itu, spread imbal hasil SBN dengan US Treasury bahkan sempat berada di sekitar 190 bps atau di bawah 200 bps. Kondisi tersebut berbeda dengan posisi saat ini yang sudah mendekati 290 bps.
Karena itu, pemerintah perlu menyesuaikan tingkat imbal hasil agar dapat kembali menarik minat investor asing. Juniman memperkirakan, imbal hasil SBN tenor 10 tahun perlu berada di kisaran 7,5%-7,9% untuk menjaga daya tarik pasar obligasi Indonesia.
"Iya, karena ini berkaitan dengan risk premium. Risk premium kita naik. Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun Indonesia sudah berada di sekitar 7,6%, sementara US Treasury berada di kisaran 5%," katanya.
Ia menambahkan, pelemahan rupiah juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan pemerintah. Sebab, pelemahan nilai tukar berpotensi meningkatkan premi risiko dan mendorong kenaikan credit default swap (CDS) Indonesia.
Baca Juga: Yield SBN Masih Tinggi, Hati-hati Biaya Berutang Baru Pemerintah Bisa Membengkak
Dengan demikian, imbal hasil di kisaran 7,5%-7,9% dinilai masih dapat menjadi level yang menarik bagi investor domestik maupun asing. Terlebih, pembeli SBN tidak hanya berasal dari investor asing, tetapi juga perbankan domestik.
Sementara, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai pasar SBN masih cukup menarik di tengah volatilitas pasar global dan domestik yang tinggi akibat perkembangan situasi di Timur Tengah.
Menurutnya, prospek imbal hasil SBN yang berada di kisaran 7,5%-8% masih dapat menarik minat investor yang berorientasi pada imbal hasil.
"Pasar SBN masih sangat menarik, apalagi investor berbasis yield seeking dengan proyeksi yield sekitar 7,5%-8%," ujar David kepada Kontan.
David menyarankan pemerintah menerapkan strategi penerbitan yang lebih berimbang antara obligasi berdenominasi valas dan rupiah. Selain itu, SBN dengan durasi lebih pendek dinilai lebih menarik bagi investor dalam kondisi pasar saat ini.
Baca Juga: Yield SBN 10 Tahun Naik ke 7,23%, Ini Dampaknya ke Beban Utang Pemerintah
Pemerintah dinilai juga dapat mengoptimalkan alternatif pembiayaan lainnya seperti pinjaman bilateral dan multilateral maupun penarikan saldo anggaran lebih (SAL), untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan APBN.
"Alternatif pembiayaan lain seperti pinjaman bilateral atau multilateral atau penarikan SAL juga bisa diupayakan," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














