kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.526.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.159   -7,00   -0,04%
  • IDX 5.057   -41,01   -0,80%
  • KOMPAS100 651   -4,49   -0,68%
  • LQ45 515   -0,12   -0,02%
  • ISSI 169   -2,02   -1,18%
  • IDX30 290   0,46   0,16%
  • IDXHIDIV20 392   3,47   0,89%
  • IDX80 75   -0,37   -0,49%
  • IDXV30 109   1,70   1,58%
  • IDXQ30 98   0,32   0,33%

Defisit Transaksi Berjalan (CAD) Indonesia Diprediksi Melebar ke 2,49% PDB pada 2026


Minggu, 01 November 2026 / 12:30 WIB
Defisit Transaksi Berjalan (CAD) Indonesia Diprediksi Melebar ke 2,49% PDB pada 2026
ILUSTRASI. Defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) Indonesia diproyeksikan melebar menjadi 2,49% (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) Indonesia diproyeksikan melebar menjadi 2,49% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2026.

Pelebaran defisit ini dipicu oleh pertumbuhan impor yang diperkirakan tetap kuat, di tengah tantangan ekspor akibat perlambatan ekonomi global dan meningkatnya ketegangan geopolitik.

Baca Juga: Kebutuhan Impor Tinggi, Surplus Neraca Dagang September 2026 Diproyeksi Menyusut

Head of Macroeconomic and Financial Market Research PermataBank Faisal Rachman memperkirakan, defisit transaksi berjalan Indonesia akan meningkat signifikan dibandingkan realisasi 2025 yang sebesar 0,09% dari PDB.

"Secara keseluruhan, kami memperkirakan defisit transaksi berjalan (CAD) akan melebar menjadi 2,49% dari PDB pada 2026, dari 0,09% pada 2025," tulis Faisal kepada Kontan.co.id, Jumat (30/10/2026).

Faisal memperkirakan, CAD akan bertahan di level 2,49% dari PDB pada 2027. Proyeksi tersebut sejalan dengan ketidakpastian global yang diperkirakan berlanjut setidaknya hingga semester I-2027.

Menurut dia, tekanan terhadap transaksi berjalan mulai tercermin dari surplus perdagangan Indonesia yang diperkirakan menyempit hingga akhir 2026.

Pertumbuhan impor yang kuat diperkirakan ditopang kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi serta kenaikan harga minyak global. Kedua faktor tersebut berpotensi meningkatkan nilai impor minyak dan gas Indonesia.

Baca Juga: Kadin Ungkap Peluang Besar Swasta, 85% Ekonomi Indonesia di Luar APBN

Di sisi lain, pertumbuhan ekspor menghadapi tantangan dari perlambatan ekonomi global, fragmentasi perdagangan, serta ketegangan geopolitik yang masih berlangsung.

Meski demikian, kinerja ekspor Indonesia masih berpeluang mendapat dukungan dari harga komoditas yang relatif kuat, terutama batubara.

Permintaan dari sejumlah mitra dagang utama, seperti China, India, dan Jepang, juga diperkirakan tetap menopang ekspor.

Namun, Faisal mengingatkan bahwa perlambatan permintaan global, khususnya dari China, berpotensi membatasi pertumbuhan ekspor Indonesia.

Ketegangan geopolitik juga dapat mengganggu jalur perdagangan internasional, meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi, serta memperpanjang waktu pengiriman barang.

Pelebaran CAD tersebut pada akhirnya berpotensi menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Risiko ini semakin besar di tengah ketidakpastian geopolitik, sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve, serta potensi perubahan klasifikasi Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Baca Juga: Mahfud MD Jelaskan Alasan Putusan MA soal Suket Ijazah Gibran Berlaku Surut

Faisal memperkirakan berbagai risiko tersebut dapat berlanjut setidaknya hingga semester I-2027. Kondisi ini berpotensi memperkuat sentimen penghindaran risiko dan mendorong arus keluar modal.

Menurut dia, kombinasi pelebaran CAD dan kemungkinan berbaliknya arus investasi portofolio menjadi arus keluar bersih dalam neraca pembayaran atau balance of payments (BoP) juga dapat memberikan tekanan signifikan terhadap cadangan devisa Indonesia.

Ketidakseimbangan eksternal dan risiko arus modal tersebut turut meningkatkan kemungkinan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.

Bahkan, Faisal menilai pengetatan moneter yang lebih agresif dapat diperlukan apabila ketidakpastian eksternal maupun domestik semakin memburuk.

Dalam skenario dasar, PermataBank memperkirakan BI akan kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6% sebelum akhir 2026. Suku bunga tersebut diperkirakan bertahan sepanjang 2027.

Namun, apabila ketidakpastian eksternal dan domestik meningkat signifikan, Faisal melihat peluang kenaikan suku bunga tambahan setidaknya 50 basis poin pada 2027.

Langkah tersebut dinilai diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah, menahan inflasi impor, dan mempertahankan stabilitas makroekonomi.

Baca Juga: MBG Diklaim Dorong Kehadiran Siswa di Sekolah, Ini Penjelasan Mendikdasmen

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×