kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.526.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.159   -7,00   -0,04%
  • IDX 5.057   -41,01   -0,80%
  • KOMPAS100 651   -4,49   -0,68%
  • LQ45 515   -0,12   -0,02%
  • ISSI 169   -2,02   -1,18%
  • IDX30 290   0,46   0,16%
  • IDXHIDIV20 392   3,47   0,89%
  • IDX80 75   -0,37   -0,49%
  • IDXV30 109   1,70   1,58%
  • IDXQ30 98   0,32   0,33%

Kadin Ungkap Peluang Besar Swasta, 85% Ekonomi Indonesia di Luar APBN


Minggu, 01 November 2026 / 11:13 WIB
Kadin Ungkap Peluang Besar Swasta, 85% Ekonomi Indonesia di Luar APBN
ILUSTRASI. Prabowo Subianto - Kadin Indonesia (Dok/Kadin Indonesia)


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai kepercayaan pengusaha terhadap prospek perekonomian nasional semakin menguat dalam dua tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Hal ini tercermin dari realisasi investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) yang disebut telah mencapai hampir Rp 2.000 triliun.

Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie mengatakan, besarnya kontribusi investasi domestik menunjukkan pengusaha nasional, termasuk pelaku usaha kelas menengah, turut menjadi penopang ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Baca Juga: Kemenhut Tetapkan Dua Perusahaan Tersangka Kasus Karhutla, Ada Investor Singapura

Menurutnya, keterlibatan pengusaha domestik dalam investasi menjadi modal penting bagi perekonomian nasional agar tidak terlalu bergantung pada dinamika eksternal.

"Kalau dilihat PMDN itu juga melibatkan teman-teman di kelas menengah. Nah, ini kami lihat bisa membuat sekali lagi daya tahan kita justru semakin kuat," ujar Anindya dalam keterangan resmi, Sabtu (31/10/2026).

Selain mempertahankan investasi pada sektor-sektor yang telah berkembang, Anindya menyebut dunia usaha juga siap mengambil bagian dalam pengembangan industri masa depan.

Sejumlah sektor yang dinilai memiliki potensi besar antara lain kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), energi terbarukan, serta pusat data (data center).

Anindya menilai, sektor-sektor tersebut memiliki peluang besar untuk meningkatkan penggunaan komponen lokal.

Dengan demikian, pengembangan industri masa depan tidak hanya mendatangkan investasi, tetapi juga membuka kesempatan bagi industri dan pelaku usaha dalam negeri untuk masuk ke rantai pasok.

Baca Juga: Mahfud MD Jelaskan Alasan Putusan MA soal Suket Ijazah Gibran Berlaku Surut

"Bukan saja untuk industri-industri yang sekarang, tapi industri masa depan. Seperti industri EV, renewable energy, data center yang memang komponen lokalnya juga banyak," jelasnya.

Lebih lanjut, Anindya menyoroti besarnya ruang kontribusi sektor swasta dalam perekonomian Indonesia.

Dia menyebut, dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang mencapai sekitar Rp 25.000 triliun, kontribusi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hanya sekitar Rp 4.000 triliun.

Artinya, sekitar 85% aktivitas ekonomi berada di luar APBN dan menjadi ruang bagi dunia usaha untuk ikut mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Karena itu, Kadin mendorong pengusaha daerah dan pelaku usaha yang tergabung dalam berbagai asosiasi untuk tumbuh bersama serta meningkatkan skala bisnis.

"Ekonomi kerakyatan sudah berjalan di dunia usaha. Kami menyadari dan ini merupakan tanggung jawab kami bahwa Rp 4.000 triliun dari Rp 25.000 triliun PDB adalah APBN. Sehingga sisanya atau sekitar 85% adalah uang yang dunia usaha bisa berkontribusi," ungkap Anindya.

Baca Juga: MBG Diklaim Dorong Kehadiran Siswa di Sekolah, Ini Penjelasan Mendikdasmen

Dia menambahkan, penguatan dunia usaha tidak hanya diarahkan untuk mendorong pengusaha daerah naik kelas, tetapi juga menciptakan pemain-pemain besar baru yang mampu bersaing di pasar global.

Di tengah gejolak ekonomi dunia, Anindya juga menilai fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan.

Dia menyebut Dana Moneter Internasional (IMF) sebelumnya pernah menempatkan Indonesia sebagai salah satu titik terang perekonomian dunia atau bright spot.

"Indonesia continues to be the bright spot. Ini telah disampaikan tahun lalu oleh IMF, dan terbukti bahwa Indonesia juga tetap menjadi bright spot. Di dalam lima guncangan ekonomi selama bisa dibilang 25 tahun, Indonesia adalah dari waktu ke waktu justru lebih kuat. Ini menandakan daya tahan kita sangat resilient," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×