Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Surplus neraca perdagangan Indonesia diproyeksikan menyusut pada September 2026.
Kenaikan impor yang lebih tinggi dibandingkan ekspor diperkirakan menekan surplus perdagangan, di tengah meningkatnya kebutuhan bahan baku dan barang modal serta kenaikan harga minyak dunia.
Kepala Ekonom PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Banjaran Surya Indrastomo memperkirakan, neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 mencatatkan surplus sebesar US$ 3 miliar.
Baca Juga: Kebutuhan Impor Tinggi, Surplus Neraca Dagang September 2026 Diproyeksi Menyusut
Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi surplus neraca perdagangan pada Agustus 2026 yang mencapai US$ 3,55 miliar.
“Neraca perdagangan September 2026 kami proyeksikan surplus US$ 3 miliar, dengan rentang proyeksi US$ 1,4 miliar hingga US$ 4,6 miliar. Angka ini lebih rendah dari realisasi Agustus 2026 sebesar US$ 3,55 miliar," ujar Banjaran kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).
Dari sisi ekspor, Banjaran memperkirakan nilainya mencapai US$ 26,4 miliar atau tumbuh 7,1% secara tahunan (YoY). Kinerja ekspor tersebut masih akan ditopang oleh harga batubara yang tinggi.
Namun, pertumbuhan ekspor diperkirakan belum mampu mengimbangi peningkatan impor. BSI memproyeksikan impor Indonesia pada September 2026 mencapai US$ 23,4 miliar atau tumbuh 15,3% YoY.
Baca Juga: Impor Meningkat, Surplus Neraca Dagang Diprediksi Susut Pada September 2026
Menurut Banjaran, peningkatan impor terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak serta kebutuhan impor bahan baku dan barang modal. Menguatnya aktivitas manufaktur turut mendorong kebutuhan impor untuk menopang kegiatan produksi di dalam negeri.
Dengan pertumbuhan impor yang lebih tinggi dibandingkan ekspor, tekanan terhadap surplus neraca perdagangan pun meningkat.
Banjaran menilai risiko proyeksi neraca perdagangan September 2026 cenderung mengarah pada surplus yang lebih kecil.
"Risikonya cenderung mengarah pada surplus yang lebih kecil karena aktivitas manufaktur menguat," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














