Reporter: Arif Ferdianto, Dendi Siswanto, Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
Ke depan, tekanan terhadap APBN diperkirakan masih berlanjut, terutama dari lonjakan harga minyak dunia.
Pemerintah memperkirakan, jika harga minyak rata-rata mencapai US$ 100 per barel, defisit APBN 2026 berpotensi melebar hingga 2,9% dari PDB, mendekati batas aman 3%.
Meski demikian, pemerintah memastikan ruang fiskal masih cukup untuk menahan gejolak. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menjaga harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi agar tidak naik hingga akhir tahun.
Kebutuhan tambahan subsidi akan ditopang oleh saldo anggaran lebih (SAL) yang saat ini mencapai sekitar Rp 420 triliun.
Namun, kalangan ekonom mengingatkan risiko yang mengintai jika harga energi global terus bertahan tinggi.
Baca Juga: Belanja Melonjak, Defisit APBN Kuartal I-2026 Tembus Rp 240,1 Triliun
Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai, tanpa penyesuaian harga domestik, defisit berpotensi membengkak dan memaksa pemerintah menambah penerbitan surat utang di tengah kondisi global yang tidak pasti.
Menurutnya, langkah tersebut berisiko karena tingginya suku bunga dan potensi rendahnya minat investor. “Menaikkan harga BBM adalah kepastian, ini masalah timing saja,” ujarnya.
Dengan tekanan eksternal yang masih kuat dan kebutuhan belanja yang tinggi, pemerintah dihadapkan pada tantangan menjaga keseimbangan fiskal sekaligus menahan dampak ekonomi ke masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













