kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.759.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 18.077   77,00   0,43%
  • IDX 5.821   -120,25   -2,02%
  • KOMPAS100 776   -9,41   -1,20%
  • LQ45 583   -5,96   -1,01%
  • ISSI 204   -1,97   -0,96%
  • IDX30 330   -4,18   -1,25%
  • IDXHIDIV20 407   -4,81   -1,17%
  • IDX80 88   -1,05   -1,18%
  • IDXV30 112   -1,89   -1,67%
  • IDXQ30 106   -1,42   -1,32%

Ini Kata Purbaya Soal Dampak Pelemahan Rupiah ke Beban Pembayaran Utang Pemerintah


Kamis, 04 Juni 2026 / 14:28 WIB
Ini Kata Purbaya Soal Dampak Pelemahan Rupiah ke Beban Pembayaran Utang Pemerintah
ILUSTRASI. Aktivitas di Cash Center Bank BNI, Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini sudah tembus ke level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi meningkatkan beban pembayaran utang pemerintah yang berdenominasi valuta asing (valas).

Namun, pemerintah memastikan dampaknya masih berada dalam kisaran yang telah diantisipasi dalam perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pelemahan rupiah tidak memengaruhi pembayaran utang Surat Berharga Negara (SBN) yang diterbitkan dalam denominasi rupiah. Selain itu, untuk surat utang valas dengan kupon tetap (fixed rate), nilai kupon yang dibayarkan juga tidak berubah.

Baca Juga: Menteri Maman Tegaskan Tak Ada Kenaikan Tarif Pajak UMKM

"Harusnya sih fixed kuponnya, tapi kan kalau dijual, pembayaran utang kan lewat bond ya. Kuponnya sih konstan, cuma pada waktu rupiah melemah ya meningkat kan dalam rupiah pembayarannya," ujar Purbaya kepada awak media, Kamis (4/6/2026).

Artinya, meskipun nilai kupon obligasi valas tetap, jumlah rupiah yang harus disiapkan pemerintah untuk membayar kewajiban tersebut menjadi lebih besar ketika kurs rupiah melemah terhadap dolar AS.

Meski demikian, Purbaya menegaskan kondisi tersebut masih berada dalam rentang perhitungan yang telah dilakukan pemerintah sebelumnya.

"Cuman kan gini, ini masih dalam range perhitungan kita yang sebelumnya saya sebutkan itu," katanya.

Saat ditanya mengenai batas asumsi pelemahan rupiah yang masih diperhitungkan pemerintah, Purbaya menjelaskan bahwa APBN awalnya menggunakan asumsi kurs sebesar Rp 16.500 per dolar AS. Namun pemerintah telah melakukan berbagai simulasi terhadap skenario pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi global.

Baca Juga: Purbaya Klaim Kondisi Fiskal Kian Sehat, Penerimaan Pajak Tumbuh 22% pada Mei 2026

"Begini, pada waktu APBN pertama kan ada asumsi berapa, Rp16.500 ya? Tapi kan terus ada simulasi pada waktu harga BBM naik tinggi kan, ya kita hitung di situ. Adjustment-nya cukup tinggi, tapi kan saya nggak sebutkan ke Anda nanti rupiah melemah signifikan," ujarnya.

Meski rupiah saat ini tertekan, Purbaya menilai nilai tukar mata uang Garuda seharusnya berada pada level yang lebih kuat dibandingkan posisi saat ini.

"Tapi basically, fundamental rupiah berada di bawah level yang sekarang, lebih kuat dari yang sekarang," katanya.

Di tengah tekanan terhadap rupiah, pemerintah juga melakukan intervensi di pasar obligasi guna menjaga stabilitas pasar keuangan domestik dan menahan kenaikan imbal hasil surat utang negara melalui intervensi Bond Stabilization Fund (BSF).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×