kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -18.000   -0,67%
  • USD/IDR 17.973   81,00   0,45%
  • IDX 5.884   -217,45   -3,56%
  • KOMPAS100 764   -32,00   -4,02%
  • LQ45 578   -20,26   -3,39%
  • ISSI 203   -8,31   -3,92%
  • IDX30 327   -10,75   -3,18%
  • IDXHIDIV20 402   -10,48   -2,54%
  • IDX80 87   -3,59   -3,99%
  • IDXV30 109   -2,27   -2,04%
  • IDXQ30 105   -2,81   -2,60%

Daya Saing Indonesia Anjlok di 2026, Airlangga: Kami Teliti Permalasahannya!


Rabu, 24 Juni 2026 / 18:42 WIB
Daya Saing Indonesia Anjlok di 2026, Airlangga: Kami Teliti Permalasahannya!
ILUSTRASI. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (KONTAN/Nurtiandriyani S)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah akan terlebih dahulu menelusuri penyebab merosotnya posisi daya saing Indonesia dalam IMD World Competitiveness Ranking (WCR) 2026 sebelum menyiapkan langkah perbaikan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pemerintah akan mengidentifikasi permalasahannya bersama tim Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP) alias tim debottlenecking.

"Kita teliti lagi masalahnya di mana. Karena kan kita ada persiapan untuk tim di bottlenecking. Jadi kita akan lihat aja dari sana," ujar Airlangga kepada awak media di Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Baca Juga: Prabowo Targetkan Tiap Desa Berhasil Lakukan Swasembada Pangan

Pernyataan tersebut disampaikan setelah posisi Indonesia dalam IMD World Competitiveness Ranking 2026 turun delapan peringkat menjadi posisi 48 dari 70 negara. 

Setahun sebelumnya Indonesia berada di posisi 40. Penurunan ini sekaligus menghapus tren positif yang sempat membawa Indonesia menembus peringkat 27 dunia pada 2024.

Menurut Airlangga, salah satu aspek yang menjadi perhatian utama untuk meningkatkan daya saing nasional adalah sektor energi, terutama kepastian pasokan listrik sebagai fondasi pembangunan ekonomi. "Ya tentu kita lihat kan sebetulnya daya saing per hari ini kan yang menjadi concern para investor itu energi," katanya.

Ia menjelaskan, stabilitas pasokan listrik menjadi komponen penting dalam penilaian infrastruktur. Menurutnya, negara dengan pasokan energi yang andal akan dinilai memiliki iklim investasi yang lebih baik.

"Tentu negara dianggap iklimnya baik kalau energi sebagai infrastruktur utama untuk apapun. Apakah itu untuk manufaktur, apakah itu untuk sektor transportasi, (itu) stabil," katanya.

Airlangga menilai Indonesia memiliki peluang memperbaiki posisi karena memiliki potensi energi baru dan terbarukan (renewable energy) yang kini menjadi daya tarik investor global. "Kebetulan Indonesia sedang diminati karena kita punya renewable energy," imbuh Airlangga.

Baca Juga: Ekonom Ingatkan Risiko Pusat Finansial Internasional Bali Jadi Sarang Tax Avoidance

Selain itu, pemerintah juga telah memperoleh berbagai masukan dari proses peninjauan bersama sejumlah lembaga internasional, termasuk OECD, yang dinilai menunjukkan persoalan yang relatif sama dengan hasil survei IMD.

Berdasarkan laporan IMD World Competitiveness Ranking 2026, Indonesia menghadapi lima tantangan utama pada tahun ini, yakni meningkatnya konfrontasi ekonomi global yang mengancam ketahanan energi nasional, pertumbuhan ekonomi yang relatif stagnan, penyesuaian alokasi anggaran pemerintah, keterbatasan infrastruktur dan kompetensi sumber daya manusia (SDM), serta terbatasnya sumber pembiayaan.

Posisi Indonesia juga melemah di tingkat regional. Di kawasan Asia Pasifik yang terdiri atas 15 negara, Indonesia turun dari peringkat 11 menjadi 14. 

Sementara pada kelompok negara dengan populasi di atas 20 juta jiwa, Indonesia turun dari posisi 16 menjadi 21.

Dari empat pilar utama penilaian, kinerja ekonomi masih menjadi kekuatan Indonesia dengan menempati peringkat 24 dunia. 

Indikator harga berada di posisi 10 dan ketenagakerjaan di peringkat 28. Namun, perdagangan internasional hanya berada di posisi 50 dan investasi internasional di peringkat 37.

Pada aspek efisiensi pemerintah, kebijakan pajak menjadi indikator terbaik Indonesia dengan peringkat 12. Sebaliknya, kerangka kelembagaan berada di posisi 50, regulasi bisnis di peringkat 43, serta kerangka sosial di posisi 54.

Sementara itu, aspek infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah terbesar. Infrastruktur dasar berada di peringkat 42, infrastruktur teknologi di posisi 47, infrastruktur ilmiah di peringkat 48, sedangkan kesehatan dan lingkungan serta pendidikan masing-masing berada di posisi 65 dan 63, menjadikannya indikator dengan kinerja terendah dalam laporan tersebut.

Baca Juga: Pemerintah Perpanjang Tenor KPR Tapera hingga 40 Tahun, Bunga Tetap 5%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×