Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun menjadi 7,229% menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan beban bunga utang pemerintah.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Aulia Falianty mengatakan, kenaikan yield memang masih berada dalam rentang proyeksi pemerintah.
Namun, peningkatan premi risiko tetap perlu diwaspadai karena kenaikan yield akan berdampak terhadap biaya bunga utang.
"Memang sekarang tinggal pilihan saja. Pemerintah mungkin masih menganggap yield ini masih cukup manageable, tapi tetap ada kenaikan risk premium yang harus jadi perhatian karena beban bunganya otomatis akan naik kalau yield naik," kata Telisa kepada awak media di Hotel Indonesia Kempinski, Kamis (3/9/2026).
Baca Juga: Yield SBN Naik Tajam, Purbaya Pastikan Beban Utang Tetap Aman
Sebagai informasi, yield SBN tenor 10 tahun naik menjadi 7,229% pada perdagangan Rabu, dari posisi 6,990% pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya.
Telisa menjelaskan, pemerintah sebenarnya telah memiliki sensitivity analysis dalam APBN untuk melihat dampak perubahan suku bunga dan nilai tukar terhadap defisit maupun yield.
Menurutnya, level yield 7,2% sebenarnya masih berada dalam rentang proyeksi yield SBN 2026. Ia mengingat proyeksi sebelumnya berada di kisaran 6,8% hingga 7,2%.
Telisa mengatakan kenaikan yield SBN dipengaruhi sejumlah faktor, baik dari dalam maupun luar negeri.
Salah satunya adalah perkembangan instrumen moneter Bank Indonesia, termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), yang berkaitan dengan upaya menjaga arus modal masuk dan stabilitas rupiah.
Baca Juga: Purbaya Ingin Kepemilikan SBN Domestik RI Mendekati Jepang
Selain itu, kenaikan premi risiko yang tercermin dari Credit Default Swap (CDS) turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Menurut Telisa, kenaikan CDS menunjukkan adanya peningkatan persepsi risiko investor terhadap Indonesia.
"Biasanya kalau yield itu naik itu salah satunya disebabkan oleh kenaikan CDS, jadi ada persepsi risiko yang meningkat," jelasnya.
Dari sisi eksternal, arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed juga memberikan tekanan terhadap yield obligasi Indonesia.
Ekspektasi bahwa inflasi AS masih tinggi membuat pasar memperkirakan ruang penurunan suku bunga The Fed menjadi lebih terbatas.
Ketidakpastian terkait rebalancing indeks MSCI juga turut membuat investor mencermati aset Indonesia. Kondisi tersebut membuat pergerakan premi risiko pasar masih fluktuatif.
Meski demikian, Telisa menilai tekanan terhadap yield SBN saat ini masih berpotensi bersifat sementara. Pergerakan yield ke depan akan bergantung pada arah kebijakan The Fed, perkembangan inflasi AS, serta kondisi geopolitik.
Baca Juga: Gubernur BI Destry Soroti Yield Global, SBN 10 Tahun Tembus 7,229%
"Kalau Amerika inflasinya makin mendingin, kita ada ruang nanti untuk yield untuk turun lagi," tuturnya.
Ia menambahkan, kondisi pasar Indonesia juga dapat lebih stabil apabila rebalancing MSCI tidak terlalu signifikan sehingga kekhawatiran investor terhadap aset domestik mereda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














