Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru dilantik, Destry Damayanti, mengatakan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi global yang menekan pasar keuangan Indonesia akan menjadi salah satu perhatian dalam rapat kebijakan moneter BI berikutnya.
Destry menyampaikan hal tersebut setelah resmi dilantik sebagai gubernur BI pada Rabu (2/9/2026). Ia menjadi perempuan pertama yang memimpin bank sentral Indonesia.
Baca Juga: Wajib Halal Oktober 2026 Jadi Momentum Industri Halal Naik Kelas
Menurut Destry, kenaikan yield obligasi global saat ini masih sejalan dengan asesmen BI sebelumnya. Kondisi tersebut mencerminkan situasi suku bunga global yang cenderung tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer.
“Ini sejalan dengan asesmen terbaru kami. Memang kita sedang menghadapi situasi ‘higher for longer’, dengan yield obligasi yang tinggi, inflasi di negara-negara maju yang tinggi, dan suku bunga yang tetap tinggi,” ujar Destry kepada wartawan dilansir dari Reuters.
Ia menegaskan faktor global akan menjadi salah satu pertimbangan penting dalam penyusunan kebijakan moneter BI.
“Faktor global akan sangat memengaruhi latar belakang kebijakan domestik kita, dan itu merupakan sesuatu yang akan terus kami perhatikan dengan seksama,” katanya.
Baca Juga: Purbaya Yakin Kredit Perbankan Bisa Tumbuh 20%, Salah Satunya Karena Dana SAL
Yield SBN 10 Tahun Tembus 7,2%
Tekanan di pasar keuangan domestik terlihat dari kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun.
Pada perdagangan Rabu, yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik menjadi 7,229%, dari 6,990% pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya.
Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah melemah sekitar 0,2% terhadap dolar AS.
Kenaikan yield global dan pelemahan aset domestik terjadi setelah Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran.
Eskalasi tersebut mendorong kenaikan harga minyak sekaligus mengerek yield obligasi global ke level tertinggi dalam beberapa tahun.
Kondisi tersebut meningkatkan kecenderungan investor menghindari aset berisiko, termasuk aset pasar negara berkembang.
Baca Juga: Aturan Penyeragaman Kemasan Rokok Berpotensi Picu Berbagai Permasalahan Baru
Destry Hadapi Tantangan Baru
Destry, 62 tahun, sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI. Ia menjadi satu-satunya kandidat yang diajukan Presiden Prabowo Subianto untuk menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri pada Juli 2026 di tengah masa jabatan keduanya.
Parlemen menyetujui pencalonan Destry pada Selasa (1/9/2026), setelah sebelumnya mendapatkan persetujuan dari komisi yang membidangi sektor keuangan.
Destry mulai memimpin BI di tengah tantangan yang cukup kompleks bagi perekonomian Indonesia.
Investor masih mencermati pengelolaan fiskal pemerintah, transparansi pasar saham serta independensi bank sentral di tengah ambisi pemerintahan Prabowo untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Sejumlah analis menilai, Destry dapat memberikan kesinambungan dalam kebijakan moneter BI.
Latar belakangnya sebagai ekonom lulusan Cornell University serta pengalamannya di BI juga dinilai dapat mendukung hubungan kerja yang baik dengan pemerintahan Prabowo.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan 500 Huntap dan Dana Rp 5 Miliar untuk Korban Gempa NTT
Rapat BI Digelar 22-23 September
Sebelum Destry menjabat sebagai gubernur, BI telah menaikkan suku bunga sebesar total 100 basis poin pada Mei dan Juni 2026 untuk menopang nilai tukar rupiah.
Rupiah sebelumnya menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia berkembang.
Kini, perhatian pasar tertuju pada rapat Dewan Gubernur BI berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada 22-23 September 2026.
Pergerakan yield obligasi global, nilai tukar rupiah, harga minyak, inflasi serta kondisi pasar keuangan domestik akan menjadi sejumlah faktor penting yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan BI dalam rapat tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














