kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.893.000   30.000   1,05%
  • USD/IDR 17.157   13,00   0,08%
  • IDX 7.624   -52,36   -0,68%
  • KOMPAS100 1.056   -6,56   -0,62%
  • LQ45 760   -4,37   -0,57%
  • ISSI 277   0,16   0,06%
  • IDX30 404   -2,51   -0,62%
  • IDXHIDIV20 489   -2,28   -0,46%
  • IDX80 118   -0,60   -0,51%
  • IDXV30 138   1,46   1,07%
  • IDXQ30 129   -0,80   -0,62%

Utang Luar Negeri Indonesia Meningkat pada Februari 2026, Cermati Penyebabnya


Rabu, 15 April 2026 / 18:11 WIB
Diperbarui Rabu, 15 April 2026 / 19:09 WIB
Utang Luar Negeri Indonesia Meningkat pada Februari 2026, Cermati Penyebabnya
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (AFP/BAY ISMOYO)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 mengalami peningkatan.

Bank Indonesia (BI) mencatat, posisi ULN Indonesia pada Februari 2026 mencapai US$ 437,9 miliar, naik dibandingkan posisi Januari 2026 yang sebesar US$ 434,9 miliar.

Secara tahunan ULN Indonesia pada Februari 2026 tumbuh sebesar 2,5% year on year (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Januari 2026 yang sebesar 1,7% yoy.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat, peningkatan ULN tersebut didorong oleh instrumen utang, terutama Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). 

Baca Juga: IMF dan Investor Global Optimistis Ekonomi RI Tetap Tangguh di Tengah Gejolak

ULN Bank Indonesia mencapai US$ 28,29 miliar pada Februari 2026, atau naik dari bulan sebelumnya yang mencapai US$ 25,46 miliar. Josua menyebut, ULN Bank Indonesia naik, berkaitan dengan strategi stabilisasi nilai tukar dan pengelolaan likuiditas valas.

Adapun BI sendiri menegaskan bahwa kenaikan ULN sektor publik terutama didorong oleh instrumen utang, terutama surat berharga rupiah Bank Indonesia.

Definisi dalam publikasi ULN juga menjelaskan bahwa ULN bank sentral mencakup surat utang, pinjaman, kas dan simpanan, serta kewajiban lain kepada bukan penduduk, dan secara fungsi digunakan untuk mendukung neraca pembayaran.

“Ini sejalan dengan langkah kebijakan BI yang pada April 2026 secara terbuka menyatakan sedang memperkuat intervensi di pasar luar negeri dan domestik melalui NDF, DNDF, pasar spot, pembelian SBN di pasar sekunder, dan penguatan operasi moneter, termasuk lelang SRBI agar tetap kompetitif dan menarik bagi investor,” tutur Josua kepada Kontan, Rabu (15/6/2026).

Josua menyebut, kenaikan ULN BI sangat dekat dengan kebutuhan menjaga daya tarik instrumen rupiah, menahan tekanan pada nilai tukar, dan memastikan tersedianya bantalan likuiditas di tengah gejolak global.

Baca Juga: Tumbuh Melambat, Utang Luar Negeri Pemerintah Tembus Rp 215,9 Miliar di Februari

Selanjutnya, peningkatan ULN Indonesia juga didorong oleh ULN bank, pada Januari 2026 nilainya mencapai US$ 30,99 miliar, lalu meningkat menjadi US$ 31,44 miliar pada Maret 2026. 

Josua menilai, peningkatan ULN bank disebabkan karena adanya kebutuhan pengelolaan likuiditas valas dan penyesuaian neraca di tengah volatilitas.  “Ini penting, karena likuiditas rupiah perbankan sebenarnya sedang longgar,” ungkapnya. 

Josua mencatat, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Februari 2026 tumbuh 13,18%, lebih tinggi daripada kredit 9,37%, dengan AL/NCD 121,29%, AL/DPK 27,4%, dan LCR 195,64%.

Artinya, kata Josua kenaikan ULN bank ini bukan disebabkan karena kekurangan likuiditas rupiah di sistem, melainkan sebagai kebutuhan likuiditas valas, pembiayaan perdagangan, pengelolaan jatuh tempo kewajiban luar negeri, atau penyesuaian posisi aset-kewajiban valuta asing saat permintaan valas meningkat dan pasar global lebih tegang.

Baca Juga: Utang Luar Negeri Pemerintah Mencapai US$ 215,9 Miliar pada Februari 2026

“Dalam konteks perang Timur Tengah dan risiko gangguan energi, kebutuhan dunia usaha akan dolar untuk impor, lindung nilai, dan pembayaran luar negeri juga cenderung naik, sehingga bank perlu menyiapkan sumber pendanaan valas yang lebih fleksibel,” jelasnya.

Josua menyimpulkan, kenaikan ULN BI dan bank pada Februari 2026 berkaitan erat dengan strategi stabilisasi nilai tukar dan kebutuhan likuiditas valas, tetapi dengan fungsi yang berbeda.

Pada BI, motifnya lebih dominan kebijakan dan stabilisasi pasar. Pada bank, motifnya lebih dominan manajemen likuiditas dan neraca.

Pernyataan tersebut lanjutnya, menjelaskan bahwa kenaikan ULN pada BI dan perbankan dapat terjadi secara bersamaan, sementara ULN pemerintah, lembaga keuangan bukan bank (LKBB), dan sektor swasta justru mengalami pelemahan.

Selain itu, ia juga menilai  bahwa pemerintah tengah bersikap lebih hati-hati, yang tercermin dari perlambatan pertumbuhan ULN pemerintah menjadi 5,5% dari sebelumnya 5,6%, akibat menurunnya aliran masuk ke surat utang pemerintah serta adanya pembayaran neto pinjaman.

Adapun sektor swasta disebut masih cenderung menahan ekspansi utang luar negeri.

Lebih lanjut, Josua menilai, tren meningkatnya ULN BI masih akan berlanjut dalam jangka pendek ini, namun sifatnya tidak akan lurus naik terus.

Selama ketidakpastian global masih tinggi, pergerakan nilai tukar rupiah dinilai masih cenderung dinamis, arus modal asing belum stabil, dan BI masih aktif menjaga daya tarik instrumen domestik, sehingga ULN BI bisa tetap tinggi atau naik turun dalam level yang relatif besar.

Baca Juga: Utang Luar Negeri Swasta Turun Jadi US$ 193,0 Miliar Pada Februari 2026

“Ini didukung oleh fakta bahwa hingga awal April 2026, instrumen BI seperti SRBI masih mencatat arus masuk dan outstanding-nya tetap besar, sementara BI juga terus menegaskan penggunaan operasi moneter secara aktif. 

Sementara untuk ULN bank, tren kenaikan ULN masih mungkin berlanjut secara selektif selama volatilitas pasar dan kebutuhan valas nasabah tetap tinggi.

“Namun saya tidak melihatnya akan berubah menjadi lonjakan struktural, karena secara keseluruhan regulator tetap menjaga kehati-hatian dan ULN swasta masih cenderung melemah. Jadi, arah ke depan lebih tepat disebut bertahan fluktuatif daripada meningkat tajam terus-menerus,” jelasnya.

Meski demikian, ia menilai kenaikan ULN BI dan bank pada Februari belum perlu dibaca sebagai tanda tekanan yang berbahaya, selama kenaikan itu tetap terkendali, digunakan untuk menopang stabilitas, dan tidak berubah menjadi ketergantungan jangka panjang pada pendanaan luar negeri jangka pendek.

Baca Juga: Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi US$ 437,9 Miliar pada Februari 2026

“Fokus ke depan justru ada pada apakah gejolak global segera mereda. Kalau mereda, kebutuhan stabilisasi akan turun dan pertumbuhan ULN BI maupun bank juga akan lebih terbatas. Kalau tidak, maka keduanya masih akan menjadi pihak pertama yang menyesuaikan diri terhadap tekanan eksternal,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×