Reporter: TribunNews | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Selasa (2/6/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 0,19% ke level Rp17.839 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di Rp 17.805 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS yang juga menekan sejumlah mata uang Asia.
Di kawasan, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah turun 0,34%, disusul dolar Taiwan 0,26% dan rupee India 0,23%. Rupiah berada di posisi berikutnya dengan koreksi 0,19%.
Sementara itu, yen Jepang melemah tipis 0,006% dan dolar Hong Kong turun 0,005%.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia masih mampu menguat terhadap dolar AS, dipimpin baht Thailand yang naik 0,24%, diikuti peso Filipina 0,10%, dolar Singapura 0,06%, yuan China 0,05%, serta ringgit Malaysia 0,005%.
Baca Juga: Masa Transisi Ekspor Satu Pintu Dimulai, Eksportir SDA Wajib Lapor ke DSI
Di tengah tekanan terhadap nilai tukar, pemerintah tengah menyiapkan tata kelola ekspor satu pintu untuk komoditas sumber daya strategis melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Kebijakan ini diarahkan untuk memperkuat cadangan devisa nasional sekaligus menjaga stabilitas rupiah.
Pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Alexander Yahya Datuk, menilai sistem tersebut berpotensi meningkatkan penerimaan devisa melalui pengawasan ekspor yang lebih terintegrasi.
Menurut dia, praktik under-invoicing atau pelaporan nilai ekspor di bawah harga sebenarnya serta transfer pricing yang selama ini menggerus penerimaan devisa dapat ditekan.
“Kalau under-invoicing atau transfer pricing bisa di-reduce atau bahkan dihilangkan, kita akan memperoleh devisa yang lebih besar. Itu akan membantu menjaga kurs mata uang kita sekaligus memastikan dana tersebut tersimpan di sistem perbankan nasional,” ujar Alexander, Senin (1/6/2026).
Ia menambahkan, model pengawasan ekspor seperti yang akan dijalankan DSI bukan hal baru karena telah diterapkan di sejumlah negara.
Secara teori, sistem tersebut dinilai mampu meningkatkan transparansi transaksi ekspor sekaligus memastikan manfaat ekonomi dari sektor sumber daya alam kembali ke dalam negeri secara lebih optimal.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Masih Hitung Potensi Penerimaan Negara Lewat Ekspor Satu Pintu DSI
Meski demikian, Alexander mengingatkan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada kesiapan sistem pada fase awal implementasi.
Menurutnya, enam hingga tujuh bulan pertama akan menjadi periode krusial untuk membangun platform, infrastruktur, serta mekanisme transaksi yang aman dan terintegrasi.
Ia menilai waktu tujuh bulan tergolong singkat untuk membangun sistem yang mampu menangani transaksi dalam skala besar. Karena itu, diperlukan upaya ekstra agar platform dapat beroperasi sesuai target dan mendukung peningkatan devisa negara.
Jika implementasi berjalan efektif, kebijakan tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat cadangan devisa, tetapi juga meningkatkan ketahanan ekonomi nasional dan menjadi salah satu penopang stabilitas rupiah di tengah gejolak pasar global.
Sumber: https://www.tribunnews.com/nasional/7837051/rupiah-masih-melemah-ekspor-satu-pintu-dinilai-jadi-bagian-strategi-pemerintah-stabilkan-kurs
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













