Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
Pernyataan tersebut lanjutnya, menjelaskan bahwa kenaikan ULN pada BI dan perbankan dapat terjadi secara bersamaan, sementara ULN pemerintah, lembaga keuangan bukan bank (LKBB), dan sektor swasta justru mengalami pelemahan.
Selain itu, ia juga menilai bahwa pemerintah tengah bersikap lebih hati-hati, yang tercermin dari perlambatan pertumbuhan ULN pemerintah menjadi 5,5% dari sebelumnya 5,6%, akibat menurunnya aliran masuk ke surat utang pemerintah serta adanya pembayaran neto pinjaman.
Adapun sektor swasta disebut masih cenderung menahan ekspansi utang luar negeri.
Lebih lanjut, Josua menilai, tren meningkatnya ULN BI masih akan berlanjut dalam jangka pendek ini, namun sifatnya tidak akan lurus naik terus.
Selama ketidakpastian global masih tinggi, pergerakan nilai tukar rupiah dinilai masih cenderung dinamis, arus modal asing belum stabil, dan BI masih aktif menjaga daya tarik instrumen domestik, sehingga ULN BI bisa tetap tinggi atau naik turun dalam level yang relatif besar.
Baca Juga: Utang Luar Negeri Swasta Turun Jadi US$ 193,0 Miliar Pada Februari 2026
“Ini didukung oleh fakta bahwa hingga awal April 2026, instrumen BI seperti SRBI masih mencatat arus masuk dan outstanding-nya tetap besar, sementara BI juga terus menegaskan penggunaan operasi moneter secara aktif.
Sementara untuk ULN bank, tren kenaikan ULN masih mungkin berlanjut secara selektif selama volatilitas pasar dan kebutuhan valas nasabah tetap tinggi.
“Namun saya tidak melihatnya akan berubah menjadi lonjakan struktural, karena secara keseluruhan regulator tetap menjaga kehati-hatian dan ULN swasta masih cenderung melemah. Jadi, arah ke depan lebih tepat disebut bertahan fluktuatif daripada meningkat tajam terus-menerus,” jelasnya.
Meski demikian, ia menilai kenaikan ULN BI dan bank pada Februari belum perlu dibaca sebagai tanda tekanan yang berbahaya, selama kenaikan itu tetap terkendali, digunakan untuk menopang stabilitas, dan tidak berubah menjadi ketergantungan jangka panjang pada pendanaan luar negeri jangka pendek.
Baca Juga: Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi US$ 437,9 Miliar pada Februari 2026
“Fokus ke depan justru ada pada apakah gejolak global segera mereda. Kalau mereda, kebutuhan stabilisasi akan turun dan pertumbuhan ULN BI maupun bank juga akan lebih terbatas. Kalau tidak, maka keduanya masih akan menjadi pihak pertama yang menyesuaikan diri terhadap tekanan eksternal,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













