Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Surplus neraca perdagangan Indonesia menyusut drastis pada April 2026 setelah laju impor melesat jauh lebih cepat dibandingkan ekspor. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan surplus perdagangan hanya tersisa US$ 89,1 juta, anjlok dari US$ 3,32 miliar pada Maret 2026.
Meski masih mencatat surplus dan memperpanjang tren positif selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, angka April menjadi salah satu surplus bulanan paling tipis dalam beberapa tahun terakhir.
Penyebab utamanya adalah lonjakan impor yang menggerus hampir seluruh kelebihan nilai ekspor Indonesia.
BPS mencatat nilai impor pada April 2026 mencapai US$25,21 miliar, naik 22,49% dibandingkan bulan sebelumnya.
Baca Juga: Surplus Neraca Dagang April 2026 Diprediksi Naik Menjadi US$ 3,78 Miliar
Pada saat yang sama, nilai ekspor hanya mencapai US$ 25,30 miliar. Akibatnya, selisih antara ekspor dan impor menyempit tajam hingga hanya sekitar US$ 89 juta.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menegaskan bahwa penyusutan surplus terutama dipicu kenaikan impor yang sangat signifikan.
"Pada April 2026 nilai impor mencapai US$ 25,21 miliar atau meningkat 22,49%," ujar Pudji dalam konferensi pers, Selasa (2/6/2026).
Dari sisi struktur perdagangan, surplus April sebenarnya masih ditopang sektor nonmigas yang mencatat kelebihan US$ 3,53 miliar. Penyumbang utama surplus berasal dari komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Namun, surplus nonmigas tersebut hampir seluruhnya terkikis oleh defisit perdagangan migas yang mencapai US$ 3,44 miliar. Defisit berasal dari transaksi minyak mentah, hasil minyak, dan gas alam yang masih membuat Indonesia bergantung pada impor energi.
Baca Juga: Surplus Neraca Dagang Menyempit Ke US$ 2 Miliar per April 2026, Efek Impor Energi
"Surplus pada April 2026 ini lebih ditopang oleh surplus pada komoditas nonmigas sebesar US$ 3,53 miliar," kata Pudji.
Penyusutan surplus pada April juga mempertegas tren perlambatan kinerja perdagangan sepanjang tahun ini.
Secara kumulatif Januari-April 2026, surplus neraca perdagangan Indonesia tercatat US$5,64 miliar, turun hampir setengah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$11,07 miliar.
Data BPS menunjukkan penyebab utamanya tetap sama, yakni pertumbuhan impor yang jauh lebih agresif dibandingkan ekspor.
Sepanjang empat bulan pertama 2026, ekspor Indonesia mencapai US$ 92,15 miliar atau tumbuh 5,48% secara tahunan. Sebaliknya, impor melonjak 13,40% menjadi US$ 86,51 miliar.
Meski perdagangan nonmigas masih mencatat surplus besar sebesar US$ 14,16 miliar, tekanan dari sektor migas membuat surplus keseluruhan menyusut. Defisit perdagangan migas selama Januari-April 2026 mencapai US$ 8,52 miliar.
Baca Juga: Surplus Neraca Dagang Diproyeksi Menyempit pada April 2026, Ini Kata CORE
Komoditas yang menjadi penopang utama surplus nasional sepanjang empat bulan pertama tahun ini adalah minyak sawit dan produk turunannya dengan surplus US$ 11,71 miliar, disusul bahan bakar mineral sebesar US$ 8,34 miliar serta besi dan baja US$ 5,71 miliar.
Di sisi lain, impor barang modal dan bahan baku industri masih mendominasi sumber defisit. Kelompok mesin dan peralatan mekanis mencatat defisit terbesar sebesar US$9,87 miliar.
Defisit juga berasal dari mesin dan perlengkapan elektrik sebesar US$4,95 miliar serta plastik dan barang dari plastik sebesar US$ 2,80 miliar.
Dengan impor yang tumbuh lebih dari dua kali lipat laju ekspor, ruang surplus perdagangan Indonesia semakin tertekan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun ekspor masih bertumbuh, kebutuhan impor—terutama untuk energi, mesin, dan peralatan industri—meningkat lebih cepat sehingga menggerus kelebihan neraca perdagangan yang selama ini menjadi salah satu penopang stabilitas eksternal Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













