Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mencatat optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi pada April 2026 masih terjaga. Hal itu tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang naik tipis ke level 123,0, dibandingkan Maret 2026 sebesar 122,9.
Meski demikian, optimisme masyarakat sebenarnya mulai melandai jika dibandingkan awal tahun.
Pada Januari 2026, IKK masih berada di level 127,0. Tren ini menunjukkan keyakinan konsumen tetap berada di zona optimistis, tetapi mulai kehilangan momentum dalam beberapa bulan terakhir.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, terjaganya keyakinan konsumen didorong membaiknya persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini.
"Terjaganya keyakinan konsumen pada April 2026 terutama ditopang oleh peningkatan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini," ujar Denny dalam keterangannya, Senin (11/5/2026).
Baca Juga: Survei BI: Keyakinan Konsumen Menguat Tipis pada April 2026
BI mencatat Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) naik menjadi 116,5 pada April 2026, dari sebelumnya 115,4 pada Maret.
Peningkatan ini terutama ditopang membaiknya persepsi masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja dan pembelian barang tahan lama atau durable goods.
Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) naik menjadi 108,8 dari sebelumnya 107,8. Sementara Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG) meningkat cukup signifikan menjadi 112,6 dari 109,2.
Secara wilayah, penguatan kondisi ekonomi paling terasa di Pontianak, Bandar Lampung, dan Makassar. Sebaliknya, penurunan terjadi di Medan, Denpasar, dan Mataram.
Kelompok usia muda juga masih menjadi motor optimisme. Responden usia 20-30 tahun mencatat indeks penghasilan saat ini tertinggi sebesar 137,6. Pada kelompok ini, indeks pembelian barang tahan lama juga paling tinggi, mencapai 121,7.
Baca Juga: Survei BI: Konsumen Mulai Menahan Belanja dan Kurangi Cicilan, Porsi Tabungan Naik
Selain itu, persepsi terhadap lapangan kerja paling optimistis datang dari responden berpendidikan sarjana dengan indeks mencapai 118,5.
Penghasilan Mulai Melandai
Di tengah membaiknya aktivitas ekonomi, BI melihat mulai ada perlambatan pada persepsi masyarakat terhadap pendapatan mereka.
Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) turun menjadi 128,1 pada April 2026, dari 129,2 pada bulan sebelumnya. Meski masih berada di zona optimistis, penurunan ini menunjukkan masyarakat mulai merasakan tekanan terhadap daya beli dan pendapatan.
Namun, keyakinan terhadap penghasilan masih relatif kuat pada seluruh kelompok pengeluaran. Indeks tertinggi tercatat pada kelompok pengeluaran di atas Rp 5 juta sebesar 138,4.
Kemudina, BI juga mencatat ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi enam bulan mendatang masih optimistis, tetapi terus melemah sejak awal tahun.
Baca Juga: Survei BI Catat Ekspektasi Konsumen pada Ekonomi ke depan Melandai Sejak Awal 2026
Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) pada April 2026 turun menjadi 129,6 dari Maret sebesar 130,4. Padahal pada Januari 2026, indeks ini masih berada di level 138,8.
Penurunan terjadi pada seluruh komponen utama, mulai dari ekspektasi penghasilan, lapangan kerja, hingga kegiatan usaha.
Indeks ekspektasi penghasilan turun menjadi 136,9 dari sebelumnya 137,7. Ekspektasi lapangan kerja turun menjadi 127,7 dari 128,0, sedangkan ekspektasi kegiatan usaha melemah menjadi 124,1 dari 125,5.
Jika dibandingkan awal tahun, penurunannya terlihat lebih tajam. Pada Januari 2026, ekspektasi penghasilan masih berada di level 146,6, ekspektasi kegiatan usaha 135,5, dan ekspektasi lapangan kerja 135,1.
Baca Juga: Survei BI: Keyakinan Konsumen Turun Pada Februari 2026
Kondisi ini menandakan masyarakat masih yakin ekonomi akan tetap tumbuh, tetapi tingkat keyakinannya mulai berkurang akibat ketidakpastian ekonomi dan tekanan daya beli.
Secara spasial, penurunan optimisme terbesar terjadi di Bandung, Mataram, dan Banjarmasin. Sementara peningkatan optimisme tercatat di Semarang, Bandar Lampung, dan Surabaya.
Masyarakat Mulai Tahan Konsumsi
Di sisi lain, survei BI juga menunjukkan masyarakat mulai lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan.
Porsi pendapatan yang ditabung meningkat menjadi 18,2% pada April 2026, dari sebelumnya 17,6% pada Maret.
Sebaliknya, porsi pendapatan untuk konsumsi turun tipis menjadi 72,1% dari 72,2%. Adapun rasio pembayaran cicilan terhadap pendapatan turun menjadi 9,7% dari sebelumnya 10,2%.
Kondisi ini menunjukkan rumah tangga mulai menahan konsumsi, meningkatkan tabungan, dan mengurangi beban cicilan di tengah ketidakpastian ekonomi ke depan.
Penurunan porsi konsumsi paling terlihat pada kelompok pengeluaran Rp 1 juta-Rp 2 juta, Rp 3,1 juta-Rp 4 juta, dan kelompok berpenghasilan di atas Rp 5 juta.
Sementara rasio cicilan juga turun pada sejumlah kelompok pengeluaran, termasuk kelompok Rp 2,1 juta-Rp 3 juta dan kelompok di atas Rp 5 juta.
Baca Juga: Survei BI: Persepsi Konsumen Terhadap Ekonomi Menguat, Tapi Penghasilan Melemah
Ke depan, tren ini mengindikasikan konsumsi rumah tangga masih akan tumbuh, namun cenderung lebih moderat karena masyarakat mulai bersikap lebih selektif dalam belanja dan memperkuat cadangan keuangan mereka.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai kondisi tersebut menunjukkan optimisme konsumen masih ada, tetapi mulai lebih rapuh dibanding awal tahun.
"Jadi konsumen masih optimistis, tapi lebih berhati-hati," ujar Josua.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 sebesar 5,61% secara tahunan belum sepenuhnya dirasakan rumah tangga sebagai perbaikan ekonomi yang berkelanjutan.
Ia menjelaskan pertumbuhan ekonomi pada awal tahun lebih banyak ditopang momentum Ramadan dan Idulfitri, percepatan belanja pemerintah, serta efek basis rendah tahun sebelumnya.
Karena itu, masyarakat masih lebih mempertimbangkan faktor riil seperti kepastian pekerjaan, kestabilan pendapatan, harga kebutuhan pokok, hingga prospek usaha keluarga.
“Bagi konsumen, yang paling dirasakan bukan hanya angka pertumbuhan, tetapi kepastian pekerjaan, kenaikan pendapatan, harga kebutuhan pokok, cicilan, dan prospek usaha keluarga,” kata Josua.
Rumah Tangga Mulai Menahan Belanja
Survei BI juga menunjukkan rumah tangga mulai meningkatkan porsi tabungan dan mengurangi beban cicilan di tengah konsumsi yang cenderung tertahan.
Proporsi pendapatan yang disimpan meningkat menjadi 18,2% pada April 2026, lebih tinggi dibandingkan Maret sebesar 17,6%.
Sebaliknya, proporsi pendapatan untuk konsumsi turun tipis menjadi 72,1% dari sebelumnya 72,2%. Sementara porsi pembayaran cicilan turun menjadi 9,7% dari sebelumnya 10,2%.
Kondisi tersebut mengindikasikan masyarakat mulai memperkuat bantalan keuangan di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi.
Josua menilai kenaikan tabungan belum tentu mencerminkan daya beli yang membaik. Dalam situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, rumah tangga cenderung menahan belanja sebagai langkah berjaga-jaga.
Baca Juga: Survei BI: Rekrutmen Karyawan Melambat di Awal Tahun
Menurut dia, tekanan biaya hidup masih menjadi faktor utama yang membayangi optimisme konsumen. Pelemahan rupiah, tingginya harga energi, kenaikan biaya logistik, hingga harga barang impor dinilai berpotensi menekan daya beli dalam beberapa bulan ke depan.
Di sisi lain, indikator konsumsi juga mulai menunjukkan perlambatan. Pertumbuhan penjualan ritel tercatat hanya 2,4% secara tahunan, sementara penjualan kendaraan segmen low cost green car (LCGC) masih mengalami kontraksi.
“Artinya konsumsi masih menjadi penopang ekonomi, tetapi tidak semua jenis belanja bergerak kuat,” ujarnya.
Ke depan, Josua menilai keyakinan konsumen masih bisa bertahan jika inflasi tetap terkendali, rupiah stabil, dan belanja pemerintah mengalir ke sektor produktif.
Namun jika tekanan eksternal berlanjut dan dunia usaha mulai menahan ekspansi tenaga kerja, konsumsi rumah tangga berisiko melambat pada kuartal II hingga semester II 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












