kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.512   12,00   0,07%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Survei BI: Optimisme Konsumen Naik Tipis, Tapi Mulai Kehilangan Momentum


Senin, 11 Mei 2026 / 21:06 WIB
Survei BI: Optimisme Konsumen Naik Tipis, Tapi Mulai Kehilangan Momentum
ILUSTRASI. Konsumen berbelanja di toko ritel modern di Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

Di sisi lain, survei BI juga menunjukkan masyarakat mulai lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan.

Porsi pendapatan yang ditabung meningkat menjadi 18,2% pada April 2026, dari sebelumnya 17,6% pada Maret.

Sebaliknya, porsi pendapatan untuk konsumsi turun tipis menjadi 72,1% dari 72,2%. Adapun rasio pembayaran cicilan terhadap pendapatan turun menjadi 9,7% dari sebelumnya 10,2%.

Kondisi ini menunjukkan rumah tangga mulai menahan konsumsi, meningkatkan tabungan, dan mengurangi beban cicilan di tengah ketidakpastian ekonomi ke depan.

Penurunan porsi konsumsi paling terlihat pada kelompok pengeluaran Rp 1 juta-Rp 2 juta, Rp 3,1 juta-Rp 4 juta, dan kelompok berpenghasilan di atas Rp 5 juta.

Sementara rasio cicilan juga turun pada sejumlah kelompok pengeluaran, termasuk kelompok Rp 2,1 juta-Rp 3 juta dan kelompok di atas Rp 5 juta.

Baca Juga: Survei BI: Persepsi Konsumen Terhadap Ekonomi Menguat, Tapi Penghasilan Melemah

Ke depan, tren ini mengindikasikan konsumsi rumah tangga masih akan tumbuh, namun cenderung lebih moderat karena masyarakat mulai bersikap lebih selektif dalam belanja dan memperkuat cadangan keuangan mereka.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai kondisi tersebut menunjukkan optimisme konsumen masih ada, tetapi mulai lebih rapuh dibanding awal tahun.

"Jadi konsumen masih optimistis, tapi lebih berhati-hati," ujar Josua.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 sebesar 5,61% secara tahunan belum sepenuhnya dirasakan rumah tangga sebagai perbaikan ekonomi yang berkelanjutan.

Ia menjelaskan pertumbuhan ekonomi pada awal tahun lebih banyak ditopang momentum Ramadan dan Idulfitri, percepatan belanja pemerintah, serta efek basis rendah tahun sebelumnya.

Karena itu, masyarakat masih lebih mempertimbangkan faktor riil seperti kepastian pekerjaan, kestabilan pendapatan, harga kebutuhan pokok, hingga prospek usaha keluarga.

“Bagi konsumen, yang paling dirasakan bukan hanya angka pertumbuhan, tetapi kepastian pekerjaan, kenaikan pendapatan, harga kebutuhan pokok, cicilan, dan prospek usaha keluarga,” kata Josua.

Rumah Tangga Mulai Menahan Belanja

Survei BI juga menunjukkan rumah tangga mulai meningkatkan porsi tabungan dan mengurangi beban cicilan di tengah konsumsi yang cenderung tertahan.

Proporsi pendapatan yang disimpan meningkat menjadi 18,2% pada April 2026, lebih tinggi dibandingkan Maret sebesar 17,6%.

Sebaliknya, proporsi pendapatan untuk konsumsi turun tipis menjadi 72,1% dari sebelumnya 72,2%. Sementara porsi pembayaran cicilan turun menjadi 9,7% dari sebelumnya 10,2%.

Kondisi tersebut mengindikasikan masyarakat mulai memperkuat bantalan keuangan di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi.

Josua menilai kenaikan tabungan belum tentu mencerminkan daya beli yang membaik. Dalam situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, rumah tangga cenderung menahan belanja sebagai langkah berjaga-jaga.

Baca Juga: Survei BI: Rekrutmen Karyawan Melambat di Awal Tahun

Menurut dia, tekanan biaya hidup masih menjadi faktor utama yang membayangi optimisme konsumen. Pelemahan rupiah, tingginya harga energi, kenaikan biaya logistik, hingga harga barang impor dinilai berpotensi menekan daya beli dalam beberapa bulan ke depan.

Di sisi lain, indikator konsumsi juga mulai menunjukkan perlambatan. Pertumbuhan penjualan ritel tercatat hanya 2,4% secara tahunan, sementara penjualan kendaraan segmen low cost green car (LCGC) masih mengalami kontraksi.

“Artinya konsumsi masih menjadi penopang ekonomi, tetapi tidak semua jenis belanja bergerak kuat,” ujarnya.

Ke depan, Josua menilai keyakinan konsumen masih bisa bertahan jika inflasi tetap terkendali, rupiah stabil, dan belanja pemerintah mengalir ke sektor produktif.

Namun jika tekanan eksternal berlanjut dan dunia usaha mulai menahan ekspansi tenaga kerja, konsumsi rumah tangga berisiko melambat pada kuartal II hingga semester II 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×