Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Pemerintah menyiapkan insentif besar dalam Program 3 Juta Rumah dengan memberikan subsidi cicilan hingga Rp 600.000 per bulan selama 25 tahun. Skema ini membuat cicilan rumah yang semula bisa mencapai Rp 1,55 juta per bulan turun menjadi sekitar Rp 950.000, sehingga peluang masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk memiliki rumah dinilai semakin terbuka.
Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Dewi Kartika, sebagaimana diberitakan Kompas.com, (2/5/2026).
Sebagai ilustrasi, jika cicilan asli rumah mencapai Rp 1.550.000 per bulan, maka dengan subsidi tersebut, debitur hanya perlu membayar sekitar Rp 950.000 per bulan.
Dewi menjelaskan bahwa skema ini akan meringankan beban masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk memiliki rumah layak.
“Jadi bukan sistem, apa, cicilan, hanya karena cicilan, oh suku bunganya rendah, itu bukan reforma agraria kalau tidak ada pemenuhan hak dasar perumahan yang layak dan akses yang lebih mudah kepada sumber kehidupan,” ujar Dewi.
Tabel Simulasi Cicilan Rumah dengan Subsidi Pemerintah
| Komponen | Sebelum Subsidi | Setelah Subsidi |
|---|---|---|
| Cicilan per bulan | Rp 1.550.000 | Rp 950.000 |
| Subsidi pemerintah | - | Rp 600.000 |
| Durasi subsidi | - | 25 tahun |
| Total subsidi (estimasi) | - | Rp 180.000.000 |
Sumber: Kompas.com
Catatan: Total subsidi = Rp 600.000 x 12 bulan x 25 tahun.
Baca Juga: Tekan Harga di Petani, Pelaku Industri Respons Usulan Pembatasan Zat Tembakau
Siapa yang Disasar?
Dewi menegaskan bahwa Program 3 Juta Rumah seharusnya tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan agenda reforma agraria.
Menurutnya, program ini tidak hanya menyasar buruh, tetapi juga kelompok masyarakat berpenghasilan rendah lainnya, seperti petani dan nelayan.
“Harusnya 3 juta rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah, apakah itu buruh, apakah itu petani, apakah itu nelayan, itu harus menjadi bagian dari kerangka reforma agraria, baik di pedesaan maupun perkotaan,” jelas Dewi.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan 1 juta rumah khusus untuk buruh dan pekerja di Indonesia.
Rumah-rumah tersebut direncanakan dibangun di dekat kawasan industri agar dapat menekan biaya sewa dan transportasi pekerja.
“Kita sudah membangun cukup banyak tahun ini, sudah sampai 350.000 rumah, tapi sasaran kita adalah minimal 1 juta rumah, kita akan mulai tahun ini juga 1 juta rumah dan rumah-rumah ini akan sesuai saran saudara akan dibuat di klaster-klaster yang dekat dengan kawasan-kawasan industri, yang dekat dengan tempat bekerja,” ujar Prabowo dalam peringatan May Day di Monas, Jumat (1/5/2026).
Selain perumahan, Prabowo juga menekankan pentingnya pembangunan fasilitas pendukung seperti daycare, rumah sakit, sekolah, transportasi umum, hingga rumah susun untuk menggerakkan perekonomian daerah.
Tonton: Rupiah Tembus Rp 17.400 BI Turun Tangan Stabilkan Pasar
Tabel Kelompok Sasaran Program 3 Juta Rumah
| Kelompok Sasaran | Keterangan |
|---|---|
| Buruh/Pekerja | Target 1 juta rumah, dekat kawasan industri |
| Petani | Masuk kategori masyarakat berpenghasilan rendah |
| Nelayan | Masuk kategori masyarakat berpenghasilan rendah |
| MBR lainnya | Program disebut harus inklusif dan terhubung reforma agraria |
Efek Ekonomi dan Lapangan Kerja
Pemerintah sebelumnya juga menyampaikan bahwa Program 3 Juta Rumah diproyeksikan memberi dampak ekonomi luas melalui keterlibatan sekitar 185 industri turunan, dari skala mikro hingga korporasi besar.
Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari menjelaskan, pembangunan perumahan ini menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang menggerakkan rantai pasok domestik.
“Eksekusi Program 3 Juta Rumah memicu reaksi berantai dan multiplier effect yang menggerakkan roda ekonomi dari skala usaha mikro hingga korporasi besar,” ujarnya dikutip dari Antara (15/4/2026).
Menurutnya, pada sektor hulu, permintaan material bangunan seperti semen, baja ringan, keramik, batu bata, genteng, hingga cat akan meningkat.
Sementara di sektor hilir, dampak ekonomi akan terasa setelah rumah diserahkan, mulai dari UMKM furnitur, elektronik rumah tangga, desain interior, hingga jasa perbankan dan asuransi.
Dari sisi ketenagakerjaan, pembangunan satu unit rumah diperkirakan menyerap lima hingga tujuh pekerja secara langsung maupun tidak langsung.
Baca Juga: Stimulus Kuartal II Kurang Menggigit, CORE Usul Tiga Poin Ini untuk Dongkrak Ekonomi
Selain pekerja konstruksi, program ini juga membuka peluang bagi arsitek, insinyur sipil, mandor, pekerja logistik, hingga sektor informal di sekitar lokasi proyek.
“Program ini telah menciptakan ekosistem ekonomi baru yang membuka peluang kerja riil bagi masyarakat,” ujar Qodari.
(Alicia Diahwahyuningtyas, Irawan Sapto Adhi)
Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/05/06/093000665/pemerintah-subsidi-cicilan-rp-600.000-per-bulan-untuk-program-3-juta-rumah?page=all#page1
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













