Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli
Di sisi lain, pemerintah mengandalkan efisiensi anggaran sekitar Rp 81 triliun untuk meredam tekanan tersebut.
Secara perhitungan, kombinasi harga minyak di sekitar US$ 90 dan efisiensi yang berjalan baik dinilai konsisten dengan defisit di kisaran 2,8% hingga 2,9% PDB.
Meski demikian, Yusuf mengingatkan bahwa realisasi efisiensi sering kali tidak sepenuhnya sesuai rencana.
"Di sini saja agak hati-hati. Efisiensi di atas kertas hampir selalu terlihat, tapi realisasinya jarang penuh. Biasanya ada gap di eksekusi. Jadi angka 2,9% itu achievable, tapi tidak otomatis," imbuh Yusuf.
Baca Juga: S&P Peringatkan Risiko Beban Utang RI Menekan Fiskal, Pemerintah Janji Jaga Defisit
Dari perspektif pasar, lanjutnya, lembaga seperti S&P tidak hanya melihat angka defisit semata, melainkan juga konsistensi kebijakan fiskal. Selama defisit dapat dijaga di kisaran 2,8%–2,9%, kredibilitas fiskal Indonesia dinilai tetap terjaga.
Namun, ia menekankan adanya tantangan yang lebih mendasar, yakni meningkatnya tekanan dari pembayaran bunga utang. Rasio bunga terhadap penerimaan negara disebut sudah cukup tinggi, sehingga ruang fiskal semakin terbatas.
"Artinya, meskipun defisit terlihat terkendali, semakin banyak ruang fiskal yang terkunci untuk bayar bunga, bukan untuk belanja produktif. Ini yang akan jadi titik sempit dalam beberapa tahun ke depan," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













