Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kenaikan harga BBM dan LPG non-subsidi per 18 April 2026 dinilai akan memberi tekanan nyata terhadap ekonomi domestik.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai, meskipun yang naik bukan Pertalite dan LPG 3 kg, dampaknya tetap luas karena energi non-subsidi digunakan dalam berbagai aktivitas ekonomi.
Menurut Josua, BBM non-subsidi masih banyak digunakan dalam sektor transportasi, distribusi, hingga kegiatan usaha. Kenaikan harga ini akan mendorong ongkos logistik yang kemudian merambat ke harga barang dan jasa.
Baca Juga: Harga BBM dan LPG Non-Subsidi Naik, Tekanan Inflasi Diprediksi Meningkat
Dampak paling cepat diperkirakan akan terlihat pada inflasi, terutama pada kelompok harga yang diatur pemerintah, sehingga inflasi umum berisiko meningkat lebih tinggi pada April hingga Mei 2026.
Tekanan tersebut juga akan dirasakan oleh sejumlah sektor, seperti transportasi, logistik, penerbangan, serta industri berbasis kimia dan bahan baku impor. Selain menghadapi kenaikan biaya operasional, sektor-sektor ini juga terbebani oleh tekanan nilai tukar.
Dari sisi rumah tangga, dampak awal diperkirakan dirasakan oleh kelas menengah sebagai pengguna utama BBM non-subsidi, sebelum kemudian meluas ke kelompok masyarakat lainnya melalui kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari.
Apalagi, sebelum kenaikan harga energi ini, keyakinan konsumen sudah mulai melemah, porsi pendapatan untuk konsumsi sudah tinggi, dan penjualan bahan bakar kendaraan menunjukkan tren penurunan.
“Kondisi ini berisiko mendorong rumah tangga menunda belanja yang tidak mendesak, terutama untuk barang tahan lama seperti kendaraan, elektronik, dan furnitur,” ujar Josua kepada Kontan, Minggu (19/4/2026).
Meski demikian, ia menilai dampak terhadap pertumbuhan ekonomi tidak akan bersifat drastis, namun cukup untuk menahan laju ekspansi. Konsumsi rumah tangga sebagai penopang utama produk domestik bruto (PDB) berpotensi melemah, sementara dunia usaha menghadapi kenaikan biaya dan ruang pelonggaran suku bunga yang terbatas.
Dalam perhitungan Josua, tekanan tersebut berpotensi memangkas pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1–0,2 poin persentase.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan bergerak ke batas bawah kisaran proyeksi, yakni sekitar 4,9%–5,1%, terutama jika tidak ada langkah penahan dari sisi fiskal untuk menjaga daya beli kelompok rentan," ungkap Josua.
Baca Juga: Jelang Kedatangan Jemaah, Petugas Haji Intensifkan Koordinasi dan Cek Lapangan
Sebagai informasi, PT Pertamina (Persero) telah menaikkan harga tiga jenis BBM non-subsidi mulai 18 April 2026. Harga Pertamax Turbo naik menjadi Rp 19.850 per liter atau sekitar 48,1% dari sebelumnya. Dexlite melonjak 66,2% menjadi Rp 24.150 per liter, sementara Pertamina Dex meningkat 64,8% menjadi Rp 24.450 per liter.
Di sisi lain, harga LPG 12 kg juga naik sekitar 18,75% menjadi Rp 228.000 per tabung di wilayah Jakarta, dari sebelumnya Rp 192.000 per tabung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













