kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.884.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.206   48,00   0,28%
  • IDX 7.634   12,62   0,17%
  • KOMPAS100 1.054   2,19   0,21%
  • LQ45 759   1,54   0,20%
  • ISSI 277   0,40   0,14%
  • IDX30 403   0,28   0,07%
  • IDXHIDIV20 490   1,86   0,38%
  • IDX80 118   0,34   0,29%
  • IDXV30 139   0,96   0,70%
  • IDXQ30 129   0,30   0,23%

Harga Bahan Baku Melonjak, Ekonom Wanti-Wanti Daya Beli Kelas Menengah Makin Terseok


Minggu, 19 April 2026 / 16:07 WIB
Harga Bahan Baku Melonjak, Ekonom Wanti-Wanti Daya Beli Kelas Menengah Makin Terseok
ILUSTRASI. Kontan - PressRelease.id. Kegiatan Bongkar Muat Peti Kemas di Terminal Petikemas Surabaya. (Dok. Pelindo/Pelindo)


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga bahan baku seperti plastik, minyak, dan komponen lainnya imbas konflik Timur Tengah dinilai akan menekan daya beli masyarakat Indonesia, terutama kelas menengah.

Guru Besar FEB Universitas Airlangga, Rahma Gafmi mengatakan, lonjakan harga plastik yang mencapai hingga 100% menjadi beban berat.

Ini mengingat plastik adalah komponen biaya produksi terbesar kedua setelah air dalam industri makanan dan minuman (mamin).

Selain itu, ia menyoroti efek domino pada produsen yang mulai membebankan kenaikan biaya produksi kepada konsumen.

Baca Juga: Timur Tengah Bergejolak, Ini Kata DEN

"Kelas menengah menghabiskan sekitar 40,5% upah untuk konsumsi rutin. Maka itu, kenaikan harga barang kemasan akan langsung mengurangi porsi pendapatan yang bisa ditabung atau diinvestasikan," jelas Rahma kepada Kontan, Minggu (19/4/2026).

Belum lagi, lanjutnya, Indonesia akan mengalami El Nino yang diprediksi berkepanjangan dan lebih ekstrem dari tahun-tahun sebelumnya. "Hal ini akan berdampak pada harga pangan yang semakin meroket," imbuh Rahma.

Ia juga menilai kenaikan harga barang elektronik dan bahan bangunan, seperti semen dan baja, memicu perilaku wait and see dari masyarakat untuk membeli aset besar, terutama mengingat bunga kredit yang sensitif terhadap BI Rate.

Untuk barang elektronik, menurut Rahma, akan terjadi penurunan moderat pada permintaan barang karena konsumen memprioritaskan kebutuhan esensial.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak, Margin Emiten Consumer Staples Berisiko Tergerus

Konsumen, menurutnya, akan mulai beralih ke produk substitusi yang lebih murah atau memperpanjang masa pakai barang yang ada.

"Kelompok kelas menengah sangat rentan, sedikit saja kenaikan harga pada barang bangunan atau elektronik, dapat membatalkan rencana peningkatan kualitas hidup mereka," sebutnya.

Secara keseluruhan, Rahma melihat, meskipun konsumsi rumah tangga masih menyumbang 58,8% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), nafas kelas menengah tampak semakin pendek.

Tanpa intervensi fiskal yang tepat seperti penguatan industri petrokimia domestik atau insentif pajak tambahan, ia menegaskan daya beli kelas menengah berisiko terus tergerus hingga akhir 2026.

Baca Juga: Ketahanan Energi RI Diuji, Diversifikasi Impor hingga Harga BBM Subsidi Jadi Sorotan

"Dan ini jelas akan berpengaruh pada perlambatan pertumbuhan ekonomi kita," tandas Rahma.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×