kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.884.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.206   48,00   0,28%
  • IDX 7.634   12,62   0,17%
  • KOMPAS100 1.054   2,19   0,21%
  • LQ45 759   1,54   0,20%
  • ISSI 277   0,40   0,14%
  • IDX30 403   0,28   0,07%
  • IDXHIDIV20 490   1,86   0,38%
  • IDX80 118   0,34   0,29%
  • IDXV30 139   0,96   0,70%
  • IDXQ30 129   0,30   0,23%

Menakar Peringatan S&P Terkait Ketahanan Kredit RI Paling Rentan di Asia Tenggara


Minggu, 19 April 2026 / 11:50 WIB
Menakar Peringatan S&P Terkait Ketahanan Kredit RI Paling Rentan di Asia Tenggara
ILUSTRASI. Logo S&P Global ditampilkan di kantornya di distrik keuangan di Kota New York (REUTERS/Arsip)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA.  Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings memberi sinyal peringatan terhadap ketahanan kredit Indonesia di tengah meningkatnya risiko global, terutama dari lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah. 

Dalam laporan terbarunya, Selasa (14/4/2026) S&P menilai Indonesia menjadi negara dengan kerentanan tertinggi di Asia Tenggara jika tekanan eksternal terus berlanjut.

S&P melihat tekanan terhadap sovereign rating kawasan berpotensi meningkat bila konflik geopolitik berkepanjangan. Namun, Indonesia dinilai paling berisiko dibanding negara peers karena memiliki bantalan fiskal yang relatif lebih tipis.

Baca Juga: Hasil Pertemuan dengan Purbaya, S&P Tetapkan Rating Indonesia di BBB Outlook Stabil

Kondisi ini membuat ruang fiskal Indonesia lebih terbatas dalam merespons gejolak harga energi, khususnya minyak. Ketika harga energi naik, beban subsidi dan kompensasi energi berpotensi membengkak, sementara kapasitas anggaran untuk menyerap tekanan tersebut dinilai tidak sebesar negara lain di kawasan.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai peringatan S&P tersebut bukan hal sepele karena berpotensi berdampak langsung pada biaya utang pemerintah. 

"Kemampuan APBN dalam menyerap kenaikan harga minyak ternyata ada batasnya, di saat bersamaan program nasional dengan anggaran besar masih terus berjalan," ujarnya, Rabu (15/4/2026).

Menurut Bhima, meski Indonesia sempat menikmati windfall dari kenaikan harga komoditas seperti batu bara, nikel, dan sawit, tambahan penerimaan itu belum cukup untuk menutup potensi pelebaran defisit anggaran tahun ini. 

Baca Juga: Bertemu IMF, Word Bank, S&P, Purbaya: Kondisi Fiskal RI Tangguh di Tengah Gejolak

Artinya, keuntungan dari sektor komoditas tidak sepenuhnya mampu mengimbangi tekanan belanja negara yang meningkat.

Ia memperkirakan defisit APBN berpotensi melebar hingga mendekati atau bahkan melampaui 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), jauh di atas target pemerintah yang hanya sekitar 0,93% dari PDB atau Rp 240,1 triliun. Jika skenario ini terjadi, tekanan lanjutan sulit dihindari.

Pelebaran defisit tersebut berisiko memicu kebijakan penyesuaian harga energi domestik, seperti kenaikan harga BBM dan LPG, yang pada akhirnya bisa menekan daya beli masyarakat serta memicu inflasi. 


Tag


TERBARU

[X]
×