kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.539   9,00   0,05%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Menakar Peringatan S&P Terkait Ketahanan Kredit RI Paling Rentan di Asia Tenggara


Minggu, 19 April 2026 / 11:50 WIB
Menakar Peringatan S&P Terkait Ketahanan Kredit RI Paling Rentan di Asia Tenggara
ILUSTRASI. Logo S&P Global ditampilkan di kantornya di distrik keuangan di Kota New York (REUTERS/Arsip)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA.  Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings memberi sinyal peringatan terhadap ketahanan kredit Indonesia di tengah meningkatnya risiko global, terutama dari lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah. 

Dalam laporan terbarunya, Selasa (14/4/2026) S&P menilai Indonesia menjadi negara dengan kerentanan tertinggi di Asia Tenggara jika tekanan eksternal terus berlanjut.

S&P melihat tekanan terhadap sovereign rating kawasan berpotensi meningkat bila konflik geopolitik berkepanjangan. Namun, Indonesia dinilai paling berisiko dibanding negara peers karena memiliki bantalan fiskal yang relatif lebih tipis.

Baca Juga: Hasil Pertemuan dengan Purbaya, S&P Tetapkan Rating Indonesia di BBB Outlook Stabil

Kondisi ini membuat ruang fiskal Indonesia lebih terbatas dalam merespons gejolak harga energi, khususnya minyak. Ketika harga energi naik, beban subsidi dan kompensasi energi berpotensi membengkak, sementara kapasitas anggaran untuk menyerap tekanan tersebut dinilai tidak sebesar negara lain di kawasan.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai peringatan S&P tersebut bukan hal sepele karena berpotensi berdampak langsung pada biaya utang pemerintah. 

"Kemampuan APBN dalam menyerap kenaikan harga minyak ternyata ada batasnya, di saat bersamaan program nasional dengan anggaran besar masih terus berjalan," ujarnya, Rabu (15/4/2026).

Menurut Bhima, meski Indonesia sempat menikmati windfall dari kenaikan harga komoditas seperti batu bara, nikel, dan sawit, tambahan penerimaan itu belum cukup untuk menutup potensi pelebaran defisit anggaran tahun ini. 

Baca Juga: Bertemu IMF, Word Bank, S&P, Purbaya: Kondisi Fiskal RI Tangguh di Tengah Gejolak

Artinya, keuntungan dari sektor komoditas tidak sepenuhnya mampu mengimbangi tekanan belanja negara yang meningkat.

Ia memperkirakan defisit APBN berpotensi melebar hingga mendekati atau bahkan melampaui 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), jauh di atas target pemerintah yang hanya sekitar 0,93% dari PDB atau Rp 240,1 triliun. Jika skenario ini terjadi, tekanan lanjutan sulit dihindari.

Pelebaran defisit tersebut berisiko memicu kebijakan penyesuaian harga energi domestik, seperti kenaikan harga BBM dan LPG, yang pada akhirnya bisa menekan daya beli masyarakat serta memicu inflasi. 


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×