kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45927,64   6,18   0.67%
  • EMAS1.325.000 -1,34%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Pemerintah Diharapkan Tak Hanya Kejar Volume Kunjungan Wisman


Minggu, 28 Januari 2024 / 19:01 WIB
Pemerintah Diharapkan Tak Hanya Kejar Volume Kunjungan Wisman
ILUSTRASI. Pemerintah Indonesia menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada tahun 2024 sebanyak 9,5 juta hingga 14,3 juta kunjungan. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/Spt.


Reporter: Ratih Waseso | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah Indonesia menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada tahun 2024 sebanyak 9,5 juta hingga 14,3 juta kunjungan. 

Di mana dari target tersebut diharapkan ada perolehan devisa pariwisata sebesar US$ 7,38 miliar (target bawah) hingga US$ 13,08 miliar (target atas).

Pengamat Pariwisata Azril Azahari menilai, Pemerintah seharusnya menggeser target kunjungan wisatawan ke Indonesia bukan lagi dari segi volume atau jumlahnya. Kualitas atau value dari pengunjung/wisatawan mancanegara yang ke Indonesia sudah seharusnya menjadi perhatian pemerintah. 

Baca Juga: Pemerintah Kaji Insentif PPh Badan DTP 10% untuk Sektor Pariwisata

Pasalnya, disayangkan jika secara jumlah wisman yang masuk melampaui target, namun tak sebanding dengan dampak ekonomi pada sektor pariwisata. 

"Geser target dari volume (jumlah wisman) menjadi Values," kata Azril dihubungi Kontan.co.id, Minggu (28/1).

Peningkatan value wisman terlihat pada lama mereka tinggal dan besarnya uang yang dikeluarkan selama di Indonesia. Dari sana kunjungan wisman akan berkontribusi pada devisa sektor pariwisata serta penyerapan tenaga kerja. 

Oleh karenanya, Ketua Ikatan Cendikiawan Pariwisata Indonesia tersebut menilai, adanya usulan bebas visa kunjungan kepada 20 negara belum jadi upaya tepat mendorong penerimaan sektor pariwisata. 

"Bukan dari Bebas Visa, Golden Visa, dan VoA (visa on arrival) karena tidak reciprocal dan persyaratan yang sangat lunak. Seharusnya dibuktikan dengan membawa dana yang cukup tinggal di Indonesia misal 1-4 minggu, sehingga yang datang bukan 'backpacker'," imbuhnya.

Menurutnya, pemerintah kini harus tanggap menyikapi adanya pergeseran paradigma pengunjung/wisman.

Baca Juga: Rencana Pemberian Bebas Visa Kunjungan ke 20 Negara Masih Dalam Pembahasan

Hal tersebut berkaca pada tren kunjungan wisatawan mancanegara yang bergeser dari sebelumnya mass tourism menjadi customize tourism. 

"Sekarang bergeser behavior ke special interest, safety-security, healthy, small in size," ujarnya. 

Sayangnya, pemerintah dinilai masih gagap dalam menghadapi pergeseran tersebut. Kondisi berbeda justru terjadi di Thailand bahkan Vietnam.

Azril mengungkapkan, kini dua negara kompetitor Indonesia di sektor pariwisata tersebut justru banyak diminati wisatawan mancanegara terutama yang berasal dari China.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×