kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.537   7,00   0,04%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Kemenkeu Catat Defisit APBN hingga Oktober 2025 Mencapai 2,02% dari PDB


Kamis, 20 November 2025 / 15:04 WIB
Kemenkeu Catat Defisit APBN hingga Oktober 2025 Mencapai 2,02% dari PDB
ILUSTRASI. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan paparan saat konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Senin (22/9/2025). ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/rwa. Kemkeu mencatat defisit APBN mencapai 2,02% dari Produk Domestik Bruto (PDB), atau dengan nominal Rp 479,7 triliun hingga Oktober 2025.


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kementerian Keuangan mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai 2,02% dari Produk Domestik Bruto (PDB), atau dengan nominal Rp 479,7 triliun hingga Oktober 2025.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, secara keseluruhan kinerja APBN menunjukkan pengelolaan yang hati-hati dan prudent, menjaga disiplin fiskal di tengah ketidakpastian global.

Angka defisit tersebut lanjutnya, berada dalam batas aman dan terkendali atau jauh lebih rendah dari outlook APBN sebesar 3,78% dari PDB.

Adapun defisit APBN terjadi dipengaruhi realisasi pendapatan negara lebih rendah dari realisasi belanja negara. Purbaya mencatat, realisasi pendapatan negara hingga Oktober 2025 mencapai Rp 2.113,3 triliun, atau 73,7% dari outlook sebesar Rp 2.865,5 triliun.

Baca Juga: BK Emas 15% Berlaku 2026, Pemerintah Targetkan Penerimaan hingga Rp 6 Triliun

“Kinerja ini didorong oleh penerimaan pajak, dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP),” tutur Purbaya dalam konferensi pers, Kamis (20/11/2025).

Pendapatan ini terdiri dari realisasi penerimaan pajak Rp 1.459 triliun atau 70,2% dari outlook sebesar Rp 2.076,9 triliun. Adapun realisasi penerimaan pajak ini lebih rendah dari periode sama tahun lalu yang mencapai Rp 1517,5 triliun atau 79% dari target.

Kemudian, penerimaan dari kepabeanan dan cukai yang mencapai Rp 249,3 triliun atau 80,3% dari outlook. Serta realisasi PNBP mencapai Rp 402,4 triliun atau 84,3% dari outlook.

Selanjutnya, realisasi belanja negara sudah mencapai Rp 2.593 triliun atau 73,5% dari outlook Rp 3.527,5 triliun.

Realisasi belanja negara ini terdiri dari belanja Kementerian/Lembaga (K/L) mencapai Rp 961,2 triliun atau 75,4%, belanja non K/L mencapai Rp 918,4 triliun atau 66,2% dari outlook, serta transfer ke daerah (TKD) mencapai Rp 713,4 triliun atau 82,6% dari outlook.

“Belanja ini diprioritaskan untuk menjaga daya beli, mendukung infrastruktur dan mengawal reformasi struktural,” jelasnya.

Lebih lanjut, keseimbangan primer mencatatkan defisit sebesar Rp 45 triliun, atau 41% terhadap outlook.

Purbaya menambahkan, untuk menjaga APBN agar tetap efektif sebagai instrumen kebijakan pertumbuhan ekonomi, Kementerian Keuangan telah melakukan pemantauan lebih detail dan langkah antisipasi terhadap potensi restorasi baik dari sisi belanja negara dan pendapatan negara. 

Baca Juga: KPK Pamerkan Rp300 Miliar Uang Rampasan Kasus Investasi Fiktif Taspen

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×