kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   -25.000   -0,89%
  • USD/IDR 17.904   45,00   0,25%
  • IDX 6.189   61,53   1,00%
  • KOMPAS100 820   12,73   1,58%
  • LQ45 615   3,78   0,62%
  • ISSI 216   0,08   0,04%
  • IDX30 348   0,65   0,19%
  • IDXHIDIV20 426   -0,75   -0,18%
  • IDX80 93   0,62   0,67%
  • IDXV30 118   -0,57   -0,49%
  • IDXQ30 111   -0,34   -0,31%

PMI Kembali ke Zona Ekspansi, Tapi Ekspor Manufaktur Masih Tertekan


Selasa, 02 Juni 2026 / 08:58 WIB
PMI Kembali ke Zona Ekspansi, Tapi Ekspor Manufaktur Masih Tertekan
ILUSTRASI. PMI Manufaktur Indonesia capai 50,0 di Mei 2026.


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor manufaktur Indonesia menunjukkan tanda-tanda stabilisasi pada Mei 2026 setelah sempat terkontraksi pada bulan sebelumnya. 

Namun, pemulihan tersebut dibayangi lonjakan biaya produksi yang mencapai salah satu level tertinggi dalam sejarah survei dan masih lemahnya permintaan ekspor. 

Laporan PMI Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global mencatat indeks Purchasing Managers' Index (PMI) naik dari 49,1 pada April 2026 menjadi 50,0 di Mei 2026. 

Angka tersebut menandakan kondisi operasional manufaktur secara umum berada dalam posisi stabil setelah sebelumnya mengalami kontraksi. 

Baca Juga: Menkeu Purbaya Masih Hitung Potensi Penerimaan Negara Lewat Ekspor Satu Pintu DSI

Kenaikan PMI ditopang oleh pertumbuhan pesanan baru yang berlanjut untuk bulan kedua berturut-turut. Bahkan, laju peningkatan permintaan menjadi yang tertinggi sejak Februari 2026. 

Sejumlah perusahaan melaporkan peningkatan pesanan terjadi karena pelanggan berupaya menambah stok di tengah tekanan harga yang masih berlangsung. 

Meski demikian, perbaikan permintaan terutama berasal dari pasar domestik. Sebaliknya, penjualan ekspor masih menurun selama tiga bulan berturut-turut dengan tingkat kontraksi paling tajam sejak Agustus 2021. 

Pelaku usaha mengaitkan pelemahan permintaan luar negeri dengan dampak konflik di Timur Tengah serta kenaikan harga yang membebani daya beli pasar ekspor. 

"Perekonomian manufaktur Indonesia masih mengalami tekanan selama bulan Mei, karena produksi terhambat oleh kenaikan harga bahan baku dan keterbatasan ketersediaan input," ujar Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti dalam keterangannya, Selasa (2/6/2026).

Di sisi produksi, aktivitas manufaktur masih menghadapi tantangan berat. Volume output turun untuk bulan ketiga berturut-turut akibat kenaikan harga bahan baku dan terbatasnya ketersediaan pasokan. Walaupun demikian, laju penurunan produksi tercatat lebih lambat dibandingkan April. 

Baca Juga: Masuk Babak Baru! KPK Periksa 20 Perusahaan Forwarder di Kasus Suap Impor Bea Cukai

Tekanan biaya menjadi sorotan utama pada Mei. S&P Global mencatat inflasi biaya input meningkat tajam hingga mencapai level tertinggi kedua sepanjang sejarah survei yang dimulai pada April 2011, hanya berada di bawah rekor yang tercatat pada September 2013. 

Kenaikan harga bahan baku menjadi faktor dominan yang mendorong lonjakan biaya operasional perusahaan. 

Akibatnya, produsen mulai meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen. Harga jual produk manufaktur meningkat dengan laju tercepat sejak Oktober 2013. 

"Kondisi ini mendorong perusahaan menaikkan harga jual pada laju tercepat hanya dalam waktu 12 setengah tahun," katanya.

Kenaikan harga bahan baku dan gangguan pasokan juga menyebabkan aktivitas pembelian bahan baku menurun. Banyak perusahaan terpaksa mengandalkan persediaan yang sudah ada karena kesulitan memperoleh bahan baku baru. 

Stok input maupun barang jadi sama-sama mengalami penurunan selama periode tersebut. 

Baca Juga: Ramai Isu Prabowo ke Italia, Qodari: Jadwal Resmi Hanya Prancis

Selain itu, waktu pengiriman pemasok terus memburuk. Rata-rata waktu pengiriman memanjang selama delapan bulan berturut-turut akibat keterlambatan distribusi dan kelangkaan bahan yang dipengaruhi kondisi geopolitik global. 

Meski menghadapi berbagai tantangan, pelaku industri masih optimistis terhadap prospek satu tahun ke depan. Harapan pemulihan didasarkan pada ekspektasi bahwa tekanan harga bahan baku dan gangguan pasokan akan mereda, meskipun waktu pemulihannya masih belum pasti.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU

[X]
×