Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli
Jika tren tersebut berlanjut, konsumsi domestik, penerimaan pajak, hingga peluang Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) berisiko semakin tertekan.
Pandangan serupa disampaikan Ekonom BTN Myrdal Gunarto. Ia menilai lonjakan jumlah orang kaya di tengah melemahnya daya beli masyarakat menjadi indikasi semakin lebarnya ketimpangan kekayaan.
Kenaikan nilai aset finansial dan properti lebih banyak menguntungkan kelompok berpenghasilan tinggi, sedangkan kelas menengah yang bergantung pada pendapatan dari upah menghadapi tekanan akibat kenaikan pendapatan yang tidak mampu mengimbangi inflasi.
“Peningkatan jumlah HNWI positif bagi akumulasi modal. Tapi tanpa ditopang kelas menengah yang kuat, fondasi ekonomi makro akan menjadi sangat rapuh,” ujar Myrdal.
Baca Juga: Update Daftar 10 Orang Terkaya di Indonesia Awal 2026, Satu Nama Baru Muncul
Menurutnya, fenomena tersebut mencerminkan pola pertumbuhan berbentuk K (K-shaped growth), ketika kelompok kaya terus menikmati peningkatan kesejahteraan sementara daya beli kelas menengah dan masyarakat berpenghasilan lebih rendah cenderung melemah.
Jika tidak diantisipasi, kondisi itu berpotensi mengurangi kekuatan konsumsi domestik, mempersempit basis penerimaan pajak, dan mengganggu keberlanjutan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














