kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.870   -65,00   -0,36%
  • IDX 5.813   -83,45   -1,42%
  • KOMPAS100 753   -11,82   -1,55%
  • LQ45 574   -9,89   -1,69%
  • ISSI 201   -2,11   -1,04%
  • IDX30 326   -5,58   -1,68%
  • IDXHIDIV20 401   -6,31   -1,55%
  • IDX80 86   -1,35   -1,56%
  • IDXV30 108   -1,35   -1,23%
  • IDXQ30 105   -1,69   -1,59%

Indonesia Diproyeksikan Jadi Negara Pencetak Orang Super Kaya Tercepat di Dunia


Senin, 29 Juni 2026 / 13:11 WIB
Diperbarui Senin, 29 Juni 2026 / 13:12 WIB
Indonesia Diproyeksikan Jadi Negara Pencetak Orang Super Kaya Tercepat di Dunia
ILUSTRASI. Petugas menghitung dolar Amerika Serikat dan rupiah di Bank BNI (KONTAN/Cheppy A. Muchlis). Indonesia diproyeksikan jadi negara dengan pertumbuhan super kaya tercepat di dunia. Namun, ancaman ketimpangan mengintai ekonomi.


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli

Jika tren tersebut berlanjut, konsumsi domestik, penerimaan pajak, hingga peluang Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) berisiko semakin tertekan.

Pandangan serupa disampaikan Ekonom BTN Myrdal Gunarto. Ia menilai lonjakan jumlah orang kaya di tengah melemahnya daya beli masyarakat menjadi indikasi semakin lebarnya ketimpangan kekayaan.

Kenaikan nilai aset finansial dan properti lebih banyak menguntungkan kelompok berpenghasilan tinggi, sedangkan kelas menengah yang bergantung pada pendapatan dari upah menghadapi tekanan akibat kenaikan pendapatan yang tidak mampu mengimbangi inflasi.

“Peningkatan jumlah HNWI positif bagi akumulasi modal. Tapi tanpa ditopang kelas menengah yang kuat, fondasi ekonomi makro akan menjadi sangat rapuh,” ujar Myrdal.

Baca Juga: Update Daftar 10 Orang Terkaya di Indonesia Awal 2026, Satu Nama Baru Muncul

Menurutnya, fenomena tersebut mencerminkan pola pertumbuhan berbentuk K (K-shaped growth), ketika kelompok kaya terus menikmati peningkatan kesejahteraan sementara daya beli kelas menengah dan masyarakat berpenghasilan lebih rendah cenderung melemah.

Jika tidak diantisipasi, kondisi itu berpotensi mengurangi kekuatan konsumsi domestik, mempersempit basis penerimaan pajak, dan mengganggu keberlanjutan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×