Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Penguatan koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter dinilai menjadi salah satu faktor yang menopang kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia. Hasilnya, arus modal asing (capital inflow) ke instrumen keuangan domestik terus mengalir di tengah ketidakpastian global.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 100 basis poin selama semester I-2026, terjadi penyesuaian harga (repricing) pada instrumen keuangan domestik terutama yield Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mendorong masuknya dana asing.
"Setelah kenaikan BI Rate, khususnya pada kuartal II dengan repricing yang banyak terjadi di Juni, inflow ke SBN dan SRBI mencapai sekitar US$ 9 miliar. Terutama yang masuk ke SBN cukup besar," ujar Destry kepada awak media di Gedung DPR, Senin (29/6/2026).
Baca Juga: Lampu Hijau RAPBN 2027! Pembahasan Awal Resmi Tuntas
Menurutnya, derasnya aliran dana asing tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan moneter, tetapi juga oleh meningkatnya kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah.
Destry menilai sinergi yang semakin erat antara kebijakan fiskal dan moneter berhasil menciptakan trust dan confidence di mata investor.
Ia menegaskan bahwa kenaikan imbal hasil (yield) pada SBN merupakan mekanisme transmisi dari kebijakan suku bunga acuan, bukan target yang secara langsung diintervensi oleh Bank Indonesia.
"Itu kan transmisi saja. Kebijakan kami adalah BI Rate," kata Destry.
Senada, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan pemerintah terus memperkuat komunikasi dengan pelaku pasar guna menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.
Menurut Suahasil, pemerintah berupaya memastikan fundamental ekonomi nasional serta arah kebijakan fiskal dapat dipahami dengan baik oleh investor, termasuk melalui komunikasi yang intensif mengenai pelaksanaan APBN dan berbagai program pemerintah.
"Kami terus berusaha supaya perekonomian kita dikenali oleh pasar melalui fundamental ekonominya. Kami juga terus berkomunikasi dengan para investor agar program-program pemerintah dan APBN dapat dipahami dengan baik, sehingga dapat meningkatkan confidence," ujar Suahasil.
Ia berharap sinergi yang kuat antara kebijakan fiskal dan moneter, disertai komunikasi yang konsisten kepada investor, dapat menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus mempertahankan aliran modal asing ke Indonesia.
Baca Juga: BI Ekspansi Operasi Moneter Rp 1.000 Triliun Hingga Juni 2026 Demi Jaga Likuiditas
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














