kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.870   -65,00   -0,36%
  • IDX 5.821   -75,34   -1,28%
  • KOMPAS100 752   -12,33   -1,61%
  • LQ45 573   -10,72   -1,84%
  • ISSI 201   -1,70   -0,84%
  • IDX30 325   -6,09   -1,84%
  • IDXHIDIV20 401   -6,69   -1,64%
  • IDX80 86   -1,38   -1,59%
  • IDXV30 108   -1,25   -1,14%
  • IDXQ30 105   -1,88   -1,76%

Indonesia Diproyeksikan Jadi Negara Pencetak Orang Super Kaya Tercepat di Dunia


Senin, 29 Juni 2026 / 13:11 WIB
Diperbarui Senin, 29 Juni 2026 / 13:12 WIB
Indonesia Diproyeksikan Jadi Negara Pencetak Orang Super Kaya Tercepat di Dunia
ILUSTRASI. Petugas menghitung dolar Amerika Serikat dan rupiah di Bank BNI (KONTAN/Cheppy A. Muchlis). Indonesia diproyeksikan jadi negara dengan pertumbuhan super kaya tercepat di dunia. Namun, ancaman ketimpangan mengintai ekonomi.


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Indonesia diperkirakan menjadi negara dengan pertumbuhan jumlah orang super kaya atau ultra-high-net-worth individuals (UHNWI) tercepat di dunia dalam lima tahun ke depan.

Namun, di balik lonjakan kekayaan tersebut, para ekonom mengingatkan adanya risiko pelebaran ketimpangan ekonomi akibat terus menyusutnya kelas menengah.

Berdasarkan The Wealth Report 2026 yang diterbitkan Knight Frank, jumlah individu dengan kekayaan bersih di atas US$ 30 juta di Indonesia diproyeksikan melonjak 81,7% menjadi 6.966 orang pada 2031, dari 3.833 orang pada 2026.

Baca Juga: Orang Super Kaya Melejit, Tapi Kelas Menengah Indonesia Kian Menyusut

Dengan laju pertumbuhan tersebut, Indonesia menempati peringkat pertama dunia, mengungguli Arab Saudi.

Laporan yang sama juga memperkirakan jumlah miliarder di Indonesia akan meningkat dari 33 orang menjadi 49 orang hingga 2031 atau tumbuh sekitar 49%.

Knight Frank menilai pusat pertumbuhan kekayaan global mulai bergeser ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Meski demikian, Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai proyeksi tersebut tidak bisa dilepaskan dari kondisi kelas menengah yang terus menyusut.

Data menunjukkan jumlah kelas menengah turun dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025. Jika dibandingkan dengan 2016, jumlahnya telah berkurang sekitar 5,6 juta orang.

Menurut Yusuf, pertumbuhan kelompok super kaya lebih banyak ditopang kenaikan nilai aset seperti saham, properti, dan bisnis.

Baca Juga: Jumlah Orang Super Kaya Melonjak, Ekonom Ingatkan Ancaman bagi Kelas Menengah

Sementara itu, upah riil masyarakat justru mengalami penurunan rata-rata 1,1% per tahun sepanjang 2018–2024.

Kondisi ini membuat pertumbuhan kekayaan lebih banyak dinikmati pemilik modal dibandingkan pekerja, sehingga kesenjangan ekonomi berpotensi semakin melebar.

Ia juga menyoroti membengkaknya kelompok aspiring middle class yang mencapai sekitar 142 juta orang pada 2025.

Di saat yang sama, daya tahan konsumsi rumah tangga dinilai mulai melemah dan semakin bergantung pada utang.

Jika tren tersebut berlanjut, konsumsi domestik, penerimaan pajak, hingga peluang Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) berisiko semakin tertekan.

Pandangan serupa disampaikan Ekonom BTN Myrdal Gunarto. Ia menilai lonjakan jumlah orang kaya di tengah melemahnya daya beli masyarakat menjadi indikasi semakin lebarnya ketimpangan kekayaan.

Kenaikan nilai aset finansial dan properti lebih banyak menguntungkan kelompok berpenghasilan tinggi, sedangkan kelas menengah yang bergantung pada pendapatan dari upah menghadapi tekanan akibat kenaikan pendapatan yang tidak mampu mengimbangi inflasi.

“Peningkatan jumlah HNWI positif bagi akumulasi modal. Tapi tanpa ditopang kelas menengah yang kuat, fondasi ekonomi makro akan menjadi sangat rapuh,” ujar Myrdal.

Baca Juga: Update Daftar 10 Orang Terkaya di Indonesia Awal 2026, Satu Nama Baru Muncul

Menurutnya, fenomena tersebut mencerminkan pola pertumbuhan berbentuk K (K-shaped growth), ketika kelompok kaya terus menikmati peningkatan kesejahteraan sementara daya beli kelas menengah dan masyarakat berpenghasilan lebih rendah cenderung melemah.

Jika tidak diantisipasi, kondisi itu berpotensi mengurangi kekuatan konsumsi domestik, mempersempit basis penerimaan pajak, dan mengganggu keberlanjutan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×