kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.836.000   17.000   0,93%
  • USD/IDR 16.720   -165,00   -1,00%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

IHS Markit: PMI Manufaktur Indonesia November turun ke 53,9, masih tunjukkan taring


Rabu, 01 Desember 2021 / 09:42 WIB
IHS Markit: PMI Manufaktur Indonesia November turun ke 53,9, masih tunjukkan taring
ILUSTRASI. Aktivitas pabrik komponen otomotif


Reporter: Bidara Pink | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laju industri manufaktur masih berdaya pada November 2021, meskipun tidak sekencang pada bulan Oktober 2021.

IHS Markit mencatat, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia November 2021 di posisi 53,9 atau turun dari 57,2 pada bulan sebelumnya.

Meski menurun, industri manufaktur masih unjuk gigi. Pasalnya, ini masih berada dalam zona ekspansif atau indeks di atas 50.

“Dan berarti, selama tiga bulan berturut-turut, kondisi bisnis membaik di seluruh sektor manufaktur Indonesia dan menunjukkan pemulihan dari gelombang Covid-19 Delta yang berlanjut,” tulis lembaga tersebut dalam keterangannya, Rabu (1/12).

Baca Juga: Revisi UU Cipta Kerja tak halangi pemerintah kejar investasi

Dari data anekdotal, menurunnya laju industri manufaktur pada bulan November 2021 didorong oleh permintaan luar negeri yang terus menurun, alias jatuh selama lima bulan berturut-turut.

“Kurangnya permintaan asing dan rendahnya tingkat inventaris merupakan penyebab penurunan pada bulan November,” tambah mereka.

Kabar baiknya, kinerja manufaktur yang masih berada di zona ekspansi meski menurun ini, masih menjadi bukti bahwa ada kenaikan permintaan dalam negeri, dengan total pesanan baru juga mengalami ekspansi meski tidak setinggi pada bulan Oktober 2021.

Dengan kenaikan permintaan dan produksi melihat kenaikan aktivitas pembelian tersebut, inventaris pra-produksi juga meningkat. Inventaris pasca produksi pun naik, untuk yang pertama kalinya sejak bulan Agustus 2021.

Penyerapan tenaga kerja tampak meningkat pada bulan November 2021 meski tak banyak. Ini karena perusahaan manufaktur Indonesia memperluas kapasitas tenaga kerja, sejalan dengan produksi.

Namun, terdapat akumulasi penumpukan pekerjaan karena ada peningkatan permintaan dan hambatan pengiriman yang mendorong peningkatan pekerjaan yang belum selesai.

Tentu saja, waktu pemenuhan pesanan terus memburuk di sektor manufaktur Indonesia di tengah-tengah laporan kemacetan pengiriman dan lalu lintas.

Baca Juga: Di Luar Ekspektasi, Aktivitas Sektor Manufaktur China Meningkat

Masalah lain yang harus dihadapi oleh industri pengolahan Indonesia adalah tekanan harga input dan biaya output yang kembali naik pada bulan November 2021.

Inflasi harga input mengalami akselerasi pada bulan November 2021 ke posisi tertinggi dalam satu windu terakhir, didorong oleh kenaikan biaya bahan baku dan transportasi, di samping adanya kekurangan di pihak pemasok.

“Dengan demikian, perusahaan manufaktur berlanjut meneruskan beban kenaikan biaya kepada pelanggan dengan menaikkan harga,” jelas IHS Markit.

Ke depan, para pengusaha manufaktur berharap pemulihan ekonomi dari varian Delta terus berlanjut, tetapi masih ada kekhawatiran dari adanya efek samping dari virus.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×