kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Ekonom: Realisasi stimulus pemerintah lebih krusial tangkal perlambatan ekonomi


Kamis, 20 Februari 2020 / 21:44 WIB
ILUSTRASI. RDG Bank Indonesia memutuskan menurunkan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate menjadi 4,75 persen.


Reporter: Grace Olivia | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 4,75% pada Kamis (20/2) turut melengkapi kebijakan pemerintah, khususnya dari sisi fiskal, untuk mencegah perlambatan ekonomi Indonesia yang lebih dalam. 

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, BI memang perlu mengambil langkah pre-emptive melalui pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. 

Baca Juga: BI: Dampak wabah corona ke perekonomian akan paling terasa di kuartal I-2020

Namun Josua menilai, bauran kebijakan fiskal pemerintah lah yang penting untuk dipastikan terealisasi. “Terutama dari sisi percepatan belanja-belanja produktif yang diwacanakan, itu harus benar-benar terealisasi untuk menjadi stimulus perekonomian dan menjaga daya beli maupun konsumsi masyarakat. Selama ini, justru kebijakan pemerintah yang masih kurang berdampak,” tutur Josua saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (20/2).

Percepatan belanja pemerintah baik di tingkat pusat yaitu kementerian dan lembaga, maupun di tingkat daerah diharapkan dapat menstimulasi aktivitas perekonomian. Dampaknya, permintaan terhadap kredit pun meningkat sehingga secara alami transmisi kebijakan moneter bisa terdorong lebih cepat. 




TERBARU

[X]
×