kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.822   -47,00   -0,26%
  • IDX 6.177   4,80   0,08%
  • KOMPAS100 808   -9,54   -1,17%
  • LQ45 609   -7,52   -1,22%
  • ISSI 213   1,66   0,79%
  • IDX30 345   -4,23   -1,21%
  • IDXHIDIV20 421   -5,17   -1,21%
  • IDX80 92   -1,32   -1,42%
  • IDXV30 113   -1,72   -1,50%
  • IDXQ30 110   -1,54   -1,38%

BI: Dampak wabah corona ke perekonomian akan paling terasa di kuartal I-2020


Kamis, 20 Februari 2020 / 18:47 WIB
ILUSTRASI. Petugas mengenakan alat pelindung diri memberikan informasi kepada penumpang di Terminal Kedatangan Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Selasa (4/2/2020).


Reporter: Grace Olivia | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) terus melakukan penilaian dan evaluasi terhadap perkembangan wabah virus Covid-19 atau corona, serta dampaknya pada perekonomian global maupun domestik.

Untuk sementara, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, dampak dari wabah corona akan paling terasa ke perekonomian sepanjang Februari dan Maret ini atau sepanjang kuartal I-2020.

Baca Juga: BI turunkan proyeksi pertumbuhan kredit Indonesia jadi hanya 9%-11% di 2020

“Hasil  assessment kami, dampak yang ditimbulkan akan berpola  V-shape yaitu mengalami penurunan signifikan pada kuartal I-2020, namun akan pulih secara berangsur-angsur selama enam bulan ke depan. Artinya, dampak secara keseluruhan masih akan terasa selama enam bulan ini,” tutur Perry.

Di sektor pariwisata, dengan skenario penutupan penerbangan dari dan ke China selama dua bulan dan penurunan wisatawan mancanegara (wisman) China maupun negara lainnya selama enam bulan, BI memperkirakan pengaruhnya terhadap penurunan devisa pariwisata mencapai kurang lebih US$ 1,3 miliar.

“Kalau nanti (penerbangan) kembali dibuka, akan kembali naik tapi pasti tidak langsung berbondong-bondong. Akan kembali normal lagi sampai dengan enam bulan proyeksinya,” kata Perry.

Sementara di sektor perdagangan internasional, gangguan logistik dan distribusi dalam proses ekspor dan impor akan berpengaruh mengurangi devisa masing-masing sebesar US$ 300 juta dan US$ 700 juta.

“Hasil komunikasi kami dengan para pengusaha importir, memang mereka melaporkan adanya gangguan distribusi logistik. Tapi mereka masih punya stok sehingga masih tetap bisa melakukan produksi dan memenuhi kebutuhan di dalam negeri,” lanjut dia.

Baca Juga: Selain suku bunga, BI juga longgarkan lagi kebijakan makroprudensial




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×