kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.577.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 16.842   24,00   0,14%
  • IDX 8.932   6,55   0,07%
  • KOMPAS100 1.228   0,34   0,03%
  • LQ45 866   -1,24   -0,14%
  • ISSI 324   0,77   0,24%
  • IDX30 439   -1,36   -0,31%
  • IDXHIDIV20 516   -2,40   -0,46%
  • IDX80 137   0,11   0,08%
  • IDXV30 144   -0,04   -0,03%
  • IDXQ30 140   -0,96   -0,68%

Ekonom BCA: Defisit APBN 2025 ke 2,92% PDB, Bisa Pengaruhi Sentimen Investor Obligasi


Kamis, 08 Januari 2026 / 20:08 WIB
Ekonom BCA: Defisit APBN 2025 ke 2,92% PDB, Bisa Pengaruhi Sentimen Investor Obligasi
ILUSTRASI. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 melebar menjadi 2,92% dari dari target awal 2,78% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 dari target awal 2,78% menjadi 2,92% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir Desember lebih berdampak pada sentimen investor surat utang negara atau obligasi.

Menurut David, meski defisit APBN tercatat lebih tinggi dari perkiraan awal, posisinya masih berada di bawah ambang batas 3% sesuai Undang-Undang Keuangan Negara, sehingga dampaknya terhadap investor obligasi dinilai relatif terbatas.

“Sejauh ini dampaknya lebih ke sentimen pada investor obligasi. Defisit APBN memang lebih tinggi dari perkiraan, tapi masih di bawah threshold sesuai Undang-Undang Keuangan Negara, sehingga dampaknya terhadap investor seharusnya relatif netral,” ujar David kepada Kontan, Kamis (8/1/2026).

Namun David mengingatkan pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif untuk APBN 2026, terutama menghadapi potensi turbulensi eksternal yang dapat memengaruhi perekonomian nasional. 

Baca Juga: Defisit APBN 2025 Melebar Jadi 2,92% PDB, Ini Risikonya ke Ekonomi Nasional

Menurutnya, risiko global dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi, pergerakan harga minyak, hingga nilai tukar rupiah. Untuk itu, ia menilai pemerintah perlu menyusun rencana kontinjensi yang bersifat dinamis guna merespons perubahan asumsi makroekonomi yang berpotensi memengaruhi kinerja APBN 2026.

"Mungkin dibuat semacam rencana kontinjensi dinamis untuk asumsi variabel ekonomi yang bisa mempengaruhi APBN,” pungkasnya.

Sebagai informasi, kontijensi adalah keadaan yang masih diliputi ketidakpastian dan berada di luar kendali, dan sering kali terkait dengan potensi risiko atau yang mungkin terjadi di masa depan.

Sehingga kesiapan kebijakan fiskal yang adaptif akan menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan investor, khususnya di pasar surat utang, di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Selanjutnya: Kenaikan Impor BBM Berpotensi Mengerek Kinerja AKR Corporindo (AKRA)

Menarik Dibaca: Ternyata Ini Penyebab dan Faktor Risiko Serangan Jantung yang Penting Diketahui

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×