Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) diperkirakan mempertahankan suku bunga atau BI-Rate di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 17-18 Maret 2026.
Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai, dampak ketegangan geopolitik di Timur Tengah terhadap perekonomian domestik sejauh ini belum cukup kuat untuk mendorong perubahan kebijakan suku bunga acuan.
Ia menjelaskan, pengaruh konflik di kawasan tersebut lebih banyak tercermin pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. Harga BBM non subsidi tercatat mulai meningkat sejak awal bulan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Baca Juga: Jamin Pasokan LPG Jelang Lebaran, Pemerintah Lakukan Impor dari Australia
“Kalau kita lihat BI-Rate masih stabil di 4,75%. Karena kalau di Indonesia dampak dari tensi geopolitik di Timur Tengah yang paling terasa itu dalam bentuk kenaikan harga BBM non subsidi,” tutur Myrdal kepada Kontan, Minggu (15/3/2026).
Selain itu, nilai tukar rupiah juga masih menghadapi tekanan sehingga belum menunjukkan penguatan yang signifikan. Meski demikian, pergerakan rupiah dinilai relatif stabil dibandingkan mata uang negara Asia lainnya.
Ia menilai, meskipun tekanan global masih berlangsung, rupiah masih mampu bertahan di bawah level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat.
Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap stabilitas makroekonomi domestik dinilai masih terjaga, sehingga belum muncul kebutuhan mendesak bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga.
Baca Juga: Prabowo Percepat Pembangunan Jembatan hingga Penerapan Gentengisasi
“Nah karena itulah kita lihat sih belum ada pressure yang membuat BI-Rate harus naik,” ungkapnya.
Di sisi lain, ia menambahkan bahwa perekonomian domestik masih membutuhkan dukungan suku bunga yang relatif rendah untuk mendorong momentum pertumbuhan. Dengan demikian, kebijakan mempertahankan suku bunga dinilai masih relevan untuk mendorong aktivitas ekonomi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













